apa yang kamu lakukan jika tetanggamu mengalami musibah

MacamMacam Doasa Yang Dianggap Remeh. 1. SYIRIK. Syirik atau menyekutukan Allah adalah sesuatu yang amat diharamkan dan secara mutlak ia merupakan dosa yang paling besar. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah bahwasanya Rasulullah r bersabda : " ألا أنبؤكم بأكبر الكبائر ؟. Ayah Perlihatkanlah Allah Kepadaku! Pada zaman dahulu kala, terdapat seorang laki-laki yang sangat sederhana, bersahaja dan suci jiwanya. Ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat cerdik dan fasih dalam berbicaralaki-laki itu sering menghabiskan waktunya bersama sang seperti sepasang sahabat sejati Lalumengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?” Orang itu lalu tertunduk dan berkata, “katakanlah yang kedua, Tuan guru!” Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah.” Pendosa itu kembali terperangah, Akantetapi, ada beberapa panduan mendasar terkait cara menyelesaikan konflik dalam organisasi. Berikut beberapa poin pentingnya. 1. Fokus pada Problem, Bukan Hal Pribadi. Tahap pertama dalam penyelesaian konflik adalah memandang masalah secara objektif. Adaseorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh A Kisah Kunjungan Al-Habib Umar Bin Hafidz Ke Bruthonia Inggris. Al-Habib Qasim bin Husain al-Atthos (Khadim Guru Mulia ketika di Darul Mushthofa), menceritakan kejadian yang beliau dengar langsung dari l https://groups.google.com/g/nunutv/c/I4-Cy99TRPs. Klik disini untuk melihat videonya Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa..!! Jumpa lagi di edisi kali ini, saya akan memberikan sesi motivasi. Di setiap Selasa dan Jum’at, saya akan memberikan topik motivasi dengan tema It’s all about mindset!’. Dan kali ini, saya akan berbicara tentang “5 SIKAP YANG HARUS ANDA MILIKI Ketika Menghadapi Musibah”. Baik, sahabat entrepreneur. It’s all about mindset!’. Dan mari sama-sama kita ucapkan salam hebat luar biasa..!! Siapa sih yang suka mendapatkan musibah? Siapa sih yang suka terpuruk? Siapa sih yang suka ketika hidup kita lagi di bawah/down? Tidak ada yang suka. Tetapi, seringkali anda lupa. Bahwa ketika kita mendapatkan musibah, ketika kondisi kita lagi di bawah/down, atau kita lagi terpuruk, justru dari situlah banyak pelajaran yang bisa kita petik. Banyak orang-orang besar dan orang-orang sukses yang justru mendapatkan pelajaran paling berharga ketika dia berada dalam kondisi terpuruk atau dalam kondisi terkena musibah. Karena ketika kondisi kita sedang mulus atau kondisi kita baik-baik saja, maka kita tidak akan belajar apapun. Hidup anda nyaman dan santai. You can’t learn something. Anda tidak belajar apapun. Seseorang justru bisa belajar sesuatu ketika dia mengalami musibah, ketika dia lagi di bawah, ketika dia lagi terpuruk, atau hutangnya menumpuk. Justru di saat seperti itu, dia belajar banyak. Ibaratkan seperti 5 jenis gelas. 5 jenis gelas ini mencerminkan sikap ketika anda menghadapi musibah. Gelas yang pertama adalah gelas yang tertutup. Anda lihat disini, gelas yang tertutup. Apabila tertutup, maka gelas ini sudah tidak bisa diisi apapun. Banyak orang yang ketika menerima musibah, dia tidak mau menerima masukan orang lain. Dia menganggap semua orang lain salah. Dan dia sendiri tidak tahu mana yang benar. Dia tidak mau menimbang dan merenungkan kata-kata orang lain. Termasuk anda yang menonton channel ini. Anda menganggap bahwa kata-kata saya adalah kata-kata yang tidak pernah mau anda dengar. Anda mungkin berpendapat saya hanya berteori, saya tidak mau mendengarkan nasehat, saya cuma membual, saya cuma berkata bullshit atau omong kosong. That’s it. Itu artinya anda menonton channel saya dengan gelas tertutup. Itulah sikap anda ketika anda menghadapi musibah. Dan anda selalu mencari pembenaran untuk diri sendiri. Anda selalu menganggap diri anda yang paling benar, anda selalu menganggap diri anda yang paling mengerti segalanya. That’s it. Dan orang-orang seperti ini, menurut saya sikapnya seperti gelas tertutup. Gelas yang kedua adalah gelas yang sudah penuh berisi air. Kalau gelas yang ini tidak dapat diisi apapun lagi. Gelas ini menggambarkan seseorang yang mau mendengar. Tetapi karena di dalam dirinya dia sudah punya suatu kepercayaan, sudah punya suatu believe system, sudah punya suatu prinsip dan pedoman, maka ajaran yang lain tidak bisa diterima olehnya. Dia sudah memiliki dan menghalangi dirinya untuk merenungkan kata-kata orang lain. Dia memang terbuka. Akan tetapi, airnya sudah penuh’. Sehingga anda merasa pendapat orang lain itu tidak benar. Dia sebenarnya mendengarkan, tetapi dalam hatinya seperti ini “Lu ngomong apa sih?”. Matanya sambil merem-merem sedikit. Bukannya terbelalak. Gayanya seperti sinis, tetapi dia dengar. Dia tidak counter, Ah, gue udah tahu segalanya!’, nggak begitu. Dia menerima saja, tetapi sikapnya penuh air’. Anda memiliki sikap seperti apa? Gelas tertutup, atau gelas yang penuh dengan air? Silahkan anda comment di bawah. Kemudian yang ketiga adalah gelas yang pecah. Diibaratkan dari 5 gelas, gelas yang pecah itu seperti apa? Karena sekalipun dapat diisi, namun gelas ini tidak dapat menampung air yang masuk ke dalam gelas tersebut. Karena gelas ini menggambarkan seseorang yang tidak mampu mencerna nasehat orang lain. Karena itu meskipun dia mau mendengarkan nasehat, tetapi dia tidak mampu memahami nasehat tersebut. Subscriber saya juga cukup banyak yang seperti ini. “Ajaran Pak Chandra itu bagus, tetapi saya bingung. Saya justru semakin pusing mendengar Pak Chandra ngomong”. Inilah yang dimaksud gelas pecah’. Entah itu halangan fisik, halangan mental, atau halangan apapun. Atau mungkin keterbatasan indra. Karena beberapa penonton channel saya juga ada yang tuna rungu. Ada juga yang mungkin tuna netra. Kalau tuna netra, anda masih bisa mendengarkan. Saya juga punya subscriber yang seorang autis. Dia bilang, “Kalau saya mendengarkan Pak Chandra, saya harus pakai earphone yang besar supaya saya bisa menangkap maksudnya”. Anda memang mempunyai keterbatasan fisik. Tetapi, hal itu sebetulnya tidak menghalangi anda untuk terus maju. Jadi artinya, gelas yang pecah’ ini memang suatu keterbatasan. Atau mungkin juga keterbatasan wawasan, sehingga mungkin pemahaman saya ini sulit dipahami oleh sebagian orang tertentu. Apakah mungkin bahasa Indonesia saya sulit dimengerti? Saya juga gak ngerti. Tetapi yang pasti, apa yang saya sampaikan disini menggunakan bahasa yang sederhana. Saya sudah berusaha menyederhanakan. Artinya, semua kalangan bisa paham. Dan artinya jika anda pernah sekolah minimal SD, anda pernah belajar Bahasa Indonesia, seharusnya anda bisa paham bahasa saya yang menurut saya cukup baku dan cukup sederhana untuk dipahami. Dan maksud saya adalah maksud yang seharusnya’ anda pahami. Bahkan banyak subscriber saya yang yang SD saja tidak tamat, namun mereka bisa paham. Bahkan saya punya subscriber dari luar negeri. Mereka bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia. Mungkin saja kakek moyangnya dari Indonesia. Tetapi artinya, mereka itu mau belajar. Dan mereka menggunakan Google Translate. Setiap kata-kata saya itu di’translate. Dan itu kemauan yang sangat besar sekali. Oleh karena itu saya katakan, meskipun gelasnya pecah, akan tetapi semangat belajar anda tidak menghalangi anda untuk maju. Itu adalah sikap yang ketiga, yaitu gelas yang pecah. Lalu sikap yang keempat, yaitu gelas yang berisi kotoran. Karena apapun yang dituangkan ke gelas tersebut, pasti akan menjadi kotoran. Gelas ini menggambarkan seseorang yang punya niat jahat atau sikap jahat. Jika orang ini bertemu dengan orang yang lebih pandai, maka ia akan menjadi iri. “Kok bisa sih, subscriber’nya banyak? Omongannya cuma segitu doang kok. Kalau gini doang, saya juga bisa!”. Please, buktikan dong.. Seperti teman saya, Atta Halilintar yang baru saja mencapai 10 juta subscribers. Banyak banget yang nyinyirin dia. Ini bukan berarti saya membela Atta di channel ini. Namun, banyak orang yang content’nya cuma gitu-gitu doang. Tetapi mengapa dia bisa mencapai 10 juta subscribers? Mikir dong.. Jadi artinya, orang bisa berprasangka negatif, iri, dikira beli subscriber. Coba kasih tahu saya, please. Cara beli subscriber itu gimana? Sampai hari ini saya gak tahu. Saya punya ribu subscribers sampai video ini dibuat, tetapi saya juga gak tahu cara beli subscriber itu gimana. Saya gak bisa. Jadi, anda harus punya suatu content yang menarik, yang membuat orang mau subscribe. Jadi apabila anda cuman bisa iri, ini adalah sikap gelas yang kotor. Jadi apabila anda melihat apapun, anda psati melihatnya dengan kacamata penuh kotoran. Jadi, kacamata anda itu penuh kotoran. Anda menilai bahwa dunia itu kotor. Karena apa? Sebetulnya bukan dunia yang kotor, tetapi KACA LO yang kotor. Kacamu itu yang penuh dengan kotoran, sehingga anda melihat apapun sebagai kotoran. Ketika anda sudah benci, anda sudah tidak suka, maka ketika anda melihat apapun, kacamata anda akan penuh dengan kotoran. Sikap anda ketika menerima musibah pun juga akan seperti itu. Ketika anda bertemu dengan orang yang lebih bodoh, levelnya di bawah anda, maka anda akan cenderung menghina atau merendahkan. Bahkan ketika bertemu dengan orang yang setara, anda menganggap dia sebagai pesaing. Sikap-sikap seperti ini menurut saya merupakan sikap seorang haters. Atau sikap orang-orang yang bukannya menunjukkan kemampuan, tetapi dia tidak mau disaingi. Dia merasa yang paling pintar, dan dia merasa yang paling hebat. Dan yang terakhir, jika ada orang yang lebih hebat dari dia, dia merasa tidak percaya diri. Tetapi dia menonjolkan rasa percaya dirinya dengan cara iri dan menjelek-jelekkan. Dia adalah orang yang seperti itu. Orang-orang seperti ini ibaratkan kanker. Penuh kotoran di dalam tubuhnya. Kanker itu akan menggerogoti nutrisi dan zat-zat baik, sehingga tubuhnya atau unsur haranya akan semakin sakit. Dan akhirnya tidak akan ada faedahnya bagi anda jika anda membenci seseorang. Bahkan, anda justru menanam kotoran-kotoran. Dan hal itu akan menghancurkan diri anda. Jadi, itulah sikap yang keempat. Sikap yang kelima, yaitu ketika gelas itu kosong. Ini yang paling penting. Yaitu jika gelas tersebut kosong, meskipun anda itu punya title, maupun anda seorang sarjana. Saya punya bayak murid yang sarjana, bahkan S2, Master sampai doktor. Murid saya juga ada yang pejabat, ada juga yang guru, ada yang dosen, dan juga banyak sekali orang dari berbagai kalangan. Sekali lagi, murid saya bukan hanya orang-orang yang tidak lulus sekolah. Murid saya banyak yang intelektual. Tetapi, sikap mereka jauh lebih humble, jauh lebih rendah hati daripada orang yang tidak tamat sekolah sekalipun. Aneh kan? Justru gelas mereka itu lebih kosong. Saya punya beberapa murid yang bahkan seorang profesor. Dia dengan senang hati mengikuti seminar saya dengan humble. Beberapa murid saya bahkan pengusaha besar. Omzet mereka dalam satu bulan bahkan mencapai puluhan miliar. Tetapi mereka itu humble dan datang dengan sikap yang mau belajar. Justru terkadang orang yang suka nyinyir dan suka omdo itu prestasinya gak ada, kemudian sekolah juga gak tamat, bisnis gak ada, pekerjaan tidak tetap, kemudian kuota juga pinjem punya temen tapi gak dibalikin. Kemudian WiFi juga maunya cari yang gratisan. Orang-orang seperti ini adalah cerminan dari 4 sikap di atas. Saya khawatir nasib anda memang selamanya tidak berubah. Sekali lagi, belajarlah dari orang-orang yang punya sikap gelas kosong ini. Gelas ini menggambarkan orang yang ideal, mau belajar, selalu mau menampung apapun dan akan dipraktekkan. Demikian sahabat entrepreneur. Jika anda menghadapi musibah, 5 sikap itulah yang harus anda pelajari. Dan semoga anda jangan memiliki gelas yang penuh, jangan punya gelas yang pecah, jangan punya gelas yang terbalik atau tertutup. Namun, anda harus mempunyai gelas yang kosong. Sekali lagi, apapun title anda, apapun latar belakang anda, apapun background anda, seberapapun hebatnya anda, seberapa tinggi IP anda, atau seberapa hebatnya anda dalam hal apapun, masih ada orang yang lebih hebat. So please, jangan sombong. Mari kita tetap keep humble, keep learning seperti ajaran di channel Success Before 30 ini. Demikian video saya kali ini. Jika anda menyukai video kali ini, silahkan klik like, berikan komentar di bawah, jangan lupa subscribe, dan jangan lupa loncengnya diaktifkan. Serta ada 2 video disini, silahkan ditonton. Dan always salam hebat luar biasa..!! Mau Dapat Update Exclusive dari SuccessBefore30 Lainnya di Email Anda? Web server is down Error code 521 2023-06-13 140934 UTC What happened? The web server is not returning a connection. As a result, the web page is not displaying. What can I do? If you are a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you are the owner of this website Contact your hosting provider letting them know your web server is not responding. Additional troubleshooting information. Cloudflare Ray ID 7d6ae97d1aa91cc6 • Your IP • Performance & security by Cloudflare Sumber / 30 October 2018 Lori Official Writer Jatuhnya pesawat Lion Air JT 160 pada Senin, 29 Oktober 2018 pagi di Tanjung Karawang menorehkan duka mendalam bagi seluruh keluarga. Setidaknya terdapat 189 penumpang yang masih belum diketahui keberadaannya sejak pesawat jatuh. Para keluarga korban tentu saja histeris saat mengetahui anggota keluarga mereka berada di dalam pesawat. Isak tangis dan duka terus bercucuran. Semua orang juga turut bersimpati dan mengucapkan belasungkawa. Di tengah kondisi yang sulit inilah, kita berperan untuk mendukung seluruh keluarga korban. Ada 4 cara yang bisa kita lakukan untuk menyampaikan rasa empati kepada seluruh keluarga, diantaranya1. Tidak menyampaikan dukacita di dinding media sosialnyaTeknologi telah mengubah budaya masyarakat, termasuk mengubah cara menyampaikan belasungkawa kepada seseorang yang kehilangan anggota keluarga atau mengalami bencana. Kebanyakan diantaranya akan memilih untuk mengucapkan belasungkawa lewat media sosial. Tapi tahukah kamu bahwa Michelle P Works, direktur klinis Westchester Group Works, pusat terapi kelompok di Harrison, New York berpendapat kalau hal ini justru hanya akan menganggu orang yang berduka. Apalagi kalau kamu menuliskan ucapan dukacita padahal dia sama sekali tidak menyebutkannya di Jangan menyampaikan berita yang belum pasti terkait musibahAkan banyak berita simpang siur yang diberitakan ketika sebuah musibah terjadi. Media-media seperti televisi, media sosial dan media online lainnya akan terus mengulik kejadian itu dalam beragam sudut pandang. Ada saja pastinya orang yang memberitakan berita bohong dengan mengait-ngaitkan soal peristiwa yang terjadi. Nah, kalau kamu adalah orang yang kebetulan dekat dengan keluarga korban musibah, ada baiknya untuk tidak menyampaikan berita apapun yang masih belum pasti kebenarannya. Akan lebih baik kamu mendampingi keluarga dan melakukan apa yang bisa kamu lakukan unuk membuat mereka lebih Tulislah kenangan tentang korban yang tertimpa musibahKamu mungkin kenal dekat dengan korban dan kamu sendiri mengaku shock saat mendengar apa yang dialaminya. Bahkan keluarganya sendiri tak henti-henti menangisi musibah yang menimpa orang yang mereka kasihi. Dalam hal ini, kamu bisa menyampaikan belasungkawa dengan cara yang berbeda. Misalnya, menuliskan tentang kenangan-kenangan manis dan sisi positif dari korban. Tulisan semacam ini bisa jadi penghibur bagi keluarga korban dan membuat mereka merasa bangga dan lebih ikhlas melepas Hindari kata-kata yang membuat keluarga justru marahKata-kata seperti Semua akan baik-baik saja’ atau Aku mengeri perasaanmu karena aku pernah mengalaminya.’ Ini adalah dua kalimat yang kedengarannya bisa menghibur, tapi sebenarnya tidak. Bagi mereka yang sedang dalam masa-masa sulit, kata-kata harapan supaya lebih disabarkan atau lebih ikhlas menerima yang terjadihanya akan terdengar seperti omong kosong. Karena itu akan lebih baik hanya mengucapkan kata belasungkawa saja. Dan tahan dirimu untuk menyampaikan sesuatu yang hanya menimbulkan kejengkelan bagi keluarga korban. Sumber Halaman 1 40 Cara Menyelesaikan Masalah dalam Islam Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, kepada keluarga serta seluruh sahabatnya beliau. Amma ba’du Dalam kehidupan ini ada begitu banyak panah musibah yang begitu cepat menembus relung kehidupan kita, di tambah lagi dengan tombak bencana yang menancap kuat bersama lemparan waktu, tapi harus di sadari bahwa sesungguhnya kita sekarang sedang hidup pada sebuah negeri kehidupan yang penuh dengan cobaan dan ujian, negeri yang di dalamnya penuh dengan kepayahan dan kesedihan, serta resah dan kegelisahan, semua menghampiri kita. Tatkala kita sedang kehilangan orang yang kita cintai semua datang menusuk hati, atau ketika kita kehilangan harta benda, begitu pula manakala kita mendapat perlakuan yang buruk dari orang lain, ketika berpisah dengan saudara yang kita sayangi demikian pula ketika kita kehilangan anggota keluarga dari salah seorang anak kita, semua datang silih berganti, begitu juga dalam perkara-perkara menyedihkan yang lainnya. Musibah yang menimpa seorang hamba tidak lepas dari empat perkara, yang pertama kemungkinan musibah itu langsung mengenai dirinya sendiri, kedua di dalam hartanya, ketiga pada kehormatanya, keempat pada anggota keluarganya atau orang-orang yang di cintainya. Sedangkan manusia pada umumnya, semua bisa mendapat musibah yang semacam ini, tidak pandang bulu, apakah dia seorang muslim atau kafir, orang yang baik atau fajir semua mendapat giliranya, sebagaimana bisa kita saksikan di tengah-tengah masyarakat kita. Melihat begitu cepat datangnya masalah tersebut dari bencana, musibah, kesedihan dll di tambah lagi ketidaksiapan seseorang untuk menghadapi datangnya musibah yang begitu cepat, maka saya membuat kaidah-kaidah pokok dalam tulisan ini sebagai benteng supaya mampu menghadapi datangnya musibah. Tulisan yang saya susun ini semuanya berkisar pada keadaan umumnya kebanyakan manusia, dan setiap keadaan harus di sesuaikan dalam cara penanganannya. Seraya memohon mudah-mudahan Allah memberi saya taufik dan bimbinganNya. Pembukaan Di dalam dunia ini, semua orang pasti ingin mencari yang namanya kebahagian dengan berusaha untuk bisa memperolehnya, sama saja apakah dia seorang muslim atau kafir, orang yang baik atau pun yang fajir. Allah Subhanahu wa ta’ala berkata menjelaskan kepada kita tentang keadaan orang-orang kafir di dalam pencarianya mereka tentang kebahagian, Allah berfirman سورة البقرة 135قال الله تعالى وَقَالُواْ كُونُواْ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰ تَهۡتَدُواْۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٣٥ “Dan mereka berkata “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah “Tidak, melainkan kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah Dia Ibrahim dari golongan orang musyrik”. QS al-Baqarah 135. Karena orang kafir menyangka bahwa orang yang mengikuti agama Yahudi atau Nasrani akan mendapat petunjuk dan memperoleh kebahagiaan. Bahkan yang lebih menakjubkan lagi hewan pun sebenarnya sering mencari yang namanya kebahagian,itu bisa kita buktikan jika dirinya terkena sinar matahari dan tidak tahan akan sengatannya maka dia akan segera pergi ke sungai lalu nyebur ke dalam air untuk berendam di dalamnya supaya tidak kepanasan, ada lagi yang meninggalkan tempat atau rumahnya berjalan untuk mencari pohon yang baru atau tembok yang kira-kira bisa untuk berlindung di bawahnya, semua itu dia lakukan dalam rangka ingin memperoleh kebahagian. Adapun keadaan manusia dalam kehidupan ini, sebagaimana yang Allah Ta’ala sifati seperti dalam firmanNya سورة البلد 4قال الله تعالى لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ٤ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. QS al-Balad 4. Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang ayat di atas “Mereka berada dalam kepayahan, dalam masalah perkara dunia, dan dalam perkara akhirat. Dalam sebuah riwayat di katakan mereka berada dalam keadaan susah payah yang sangat karena sempitnya ruang kehidupan di dunia dan beratnya beban yang dipikul ketika di akhirat”. Maka manakala sebuah musibah turun menimpa, membikin suasana menjadi gelap gulita, dunia menjadi terasa sempit, maka dalam menangani problematikanya terkadang di butuhkan waktu yang lama serta usaha yang sungguh-sungguh bahkan bisa membutuhkan bantuan dari orang yang di percayai. Dan insya Allah akan saya sebutkan dalam buku ini sebagian hal positif yang bisa membantu mengatasi problem dan meminimalisir terjadinya problem tersebut, bahkan kemungkinan untuk bisa mencegah awal mula munculnya. Namun jangan langsung beranggapan bahwa siapa saja yang membaca cara pemecahan problem ini langsung mendapati dirinya bisa keluar dengan sempurna dari problematika kehidupan atau langsung hilang problematikanya dalam sekejap, tapi keadaanya bisa kita gambarkan seperti sebuah bangunan yang tinggi, terkadang bergoyang terkena angina kencang atau jatuh bagian bangunanya, maka yang perlu di pahami bahwa di sini kita sedang mencoba bersama untuk memperbaiki bangunan tersebut dan mengeluarkan sesuatu yang memang tidak di butuhkan lagi, dengan mempertahankan yang tersisa untuk tetap selamat kemudian mencoba membangun kembali, demikian seterusnya…dan membangun tidak seperti orang yang sedang merobohkan oleh karena itu dibutuhkan usaha yang maksimal dan kesabaran serta semangat yang panjang sampai bisa menyelesaikan problem yang di milikinya dengan izin Allah Azza wa jalla. Pertama Mengucapkan kalimat istirjaa ketika mendapat musibah Jika seseorang di timpa musibah, maka pertama kali yang harus dilakukan untuk bisa mengobatinya yaitu kembali kepada Allah Ta’ala dengan mengucapkan قال الله تعالى { إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ } سورة البقرة 156 “Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali”. QS al-Baqarah 156. Dan kalimat istirjaa ini termasuk bagian dari adab Nabawi yang agung, karena kalimat tersebut akan membuat hati menjadi tenang dan tentram. Sebagaimana telah di riwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari haditsnya Umu Salamah semoga Allah meridhoinya, dia mengatakan “saya mendengar Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda اللهم أجرني في مصيبتي وأخلف لي خيرا منها إلا أخلف الله له خيرا منها…” رواه أبو داود والدارقطني وغيره{إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ}قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مسلم تصيبه مصيبة، فيقول ما أمر الله “Tidaklah seorang muslim terkena musibah, kemudian mengucapkan kalimat yang telah di perintahkan oleh Allah Ta’ala dalam kitabNya yaitu mengucapkan “inaa lillahi wa inaa ilahi roji’un”, Ya Allah berilah pahala pada musibah yang menimpaku, dan berilah ganti darinya yang lebih baik, melainkan Allah pasti akan menggantinya yang lebih baik darinya”. HR Muslim. Perhatikan bagaimana Ummu Salamah semoga Allah meridhoinya benar-benar melaksanakan wasiat Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam tersebut dengan mengucapkan istirjaa tatkala di tinggal mati oleh suaminya Abu Salamah, maka kemudian Allah Azza wa jalla menggantinya dalam musibah tersebut dengan yang lebih baik, dengan mendapatkan kemulian diperistri oleh Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam. Namun perlu di ingat terkadang ganti tersebut Allah Ta’ala berikan ketika di dunia, atau di ambil nanti ketika di akhirat, atau juga mendapat di kedua negeri tersebut, di dunia dan diakhirat. Kedua Perlahan dan tidak tergesa-gesa Kebanyakan masalah biasanya terjadi dalam ruang lingkup anggota keluarga atau antara pasangan suami istri, atau bisa juga terjadi antar sesama teman dan saudara. Oleh karenanya jika terjadi masalah, maka bagian terbesar yang bisa membantu untuk memecahkanya adalah sikap pelan-pelan tidak terburu-buru sambil berpikir tentang masalah yang sebenarnya dan tidak tergesa-gesa di dalam mengambil keputusan. Dan keputusan tetap berada di tanganmu, jika kamu mempunyai pemikiran untuk hari ini maka itu merupakan pemikiran untuk hari esok juga, tidak ada yang membuat dirimu merasa di rugikan dengan lambatnya kamu di dalam mengambil keputusan, bahkan dengan sebab itu pikiranmu bisa berubah untuk mendapat keputusan yang terbaik, begitu seterusnya. Terlebih dengan diiringi hati yang tenang, kemarahan telah sirna dan kegalutan pun telah pergi, maka itu bisa lebih banyak membantu untuk menemukan solusi yang tepat. Dan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada Aisyah di dalam sabdanya قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عليك بالرفق وإياك والعنف والفحش، فإن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه” رواه مسلم “Berbuatlah dengan lembut lembut dan jauhi olehmu permusuhan dan perbuatan keji, sesungguhnya tidaklah lemah lembut itu di letakan pada suatu perkara melainkan ia pasti akan menghiasinya, dan tidaklah di cabut lemah lembut tersebut dari suatu perkara melainkan akan menjadikan jelek”. HR Muslim. Anjuran ini pada asalnya di tujukan pada ibunda kita Aisyah, namun setelahnya langsung mengarah kepada seluruh orang-orang yang beriman. Kita tidak pernah mendengar bahwa sifat mudah marah dan mudah terpancing emosi itu bisa mendatangkan kebaikan di manapun tempatnya, kalau sekiranya saya ceritakan hasil dari penelitian pada orang-orang yang mudah marah maka kalian pasti akan heran di sebabkan banyaknya akibat buruk dari sikap ini, seperti, akan menjadikan anak satu sama lain saling berkelompok karena takut dengan bapaknya yang garang, terhempasnya keluarga, dan menjadikan penjara penuh untuk menampung tahanan…semua itu di sebabkan kemarahan yang terkadang sifatnya hanya sebentar. Betapa indahnya kalau mau berpikir terlebih dahulu sebelum berbuat sambil di hiasi dengan kelemahlembutan dan sikap bijak dalam bertindak. Ketiga Sabar Tidaklah kedua telingamu mendengar kalimat musibah melainkan pada telinga satunya harus ada kalimat sabar, kalau seandainya hal itu tidak kamu lakukan maka masalah atau problem tersebut akan menjadi semakin membesar, yang pada nantinya membuat patah semangat dan berujung enggan untuk menyelesaikanya. Namun Allah Azza wa jalla Maha Penyayang dalam hal ini kepada para hambaNya, dimana Dia telah menundukan bagi mereka cara jitu untuk mengatasi masalah yaitu dengan kesabaran. Dalam agama, sabar mempunyai kedudukan yang sangat urgen, bahkan ia merupakan bagian dari agama itu sendiri, di mana sabar adalah tempat berteduhnya bagi para penyabar, dan merupakan harta simpanan dari simpanan-simpanan di surga. Yang mana Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang sabar dengan pahala yang sangat besar, hal itu seperti yang di jelaskan dalam firmanNya قال الله تعالى إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ سورة الزمر “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. QS az-Zumar 10. Berkata Imam al-Auz’ai “Balasan bagi orang yang sabar tidak lagi ditimbang, maupun diukur namun langsung di ambilkan tanpa ada batasannya”. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر، فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر، فكان خيرا له رواه مسلم “Sungguh sangat menakjubkan perkaranya seorang mukmin itu, semua perkaranya baik, dan tidak ada pada seorang pun melainkan hanya seorang mukmin, jika dirinya mendapat reziki dia bersyukur, maka itu baik baginya, jika dirinya di timpa musibah lalu bersabar itu juga baik baginya”. HR Muslim. Sikap sabar sendiri mempunyai makna yang dalam yaitu berhenti bersama musibah dengan cara menyikapi yang baik. Dan jangan dikira kalau musibah itu hanya pada perkara-perkara yang besar saja seperti kematian atau perceraian, misalkan, akan tetapi setiap perkara yang kamu merasakan sedih ketika kehilangan darinya maka itulah yang di namakan musibah. Pernah suatu hari tali sendalnya Umar bin Khatab semoga Allah meridhoinya putus maka beliau pun mengucapkan kalimat istirjaa’ lalu mengatakan “Setiap kejadian buruk yang menimpamu maka itu adalah musibah”. Dan jika seorang muslim tidak sabar ketika tertimpa sebuah musibah, tidak pula mengharap pahala dari sebab musibah tersebut, maka hilang sudah pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala pada hari-hari musibah tersebut. Dan kedudukan yang paling tinggi di antara orang-orang yang sabar yaitu kedudukan orang yang ridho dengan qodho dan qadr Allah Subhanahu wa ta’ala, tunduk dengan takdir Allah Ta’ala, Allah berfirman قال الله تعالى { قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٥١ } سورة التوبة 51 “Katakanlah “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”. QS at-Taubah 51. Imam Ibnu Rajab mengatakan “Adapun perbedaan antara ridho dengan sabar yaitu kalau sabar adalah menutupi jiwa dari rasa marah dengan menahan rasa sakit yang ada sambil berharap agar segera hilang rasa sakit tersebut, dan mencegah anggota badan jangan sampai melakukan perbuatan yang tidak terpuji oleh sebab marah. Sedangkan ridho adalah menerima dan lapang dada dengan ketentuan Allah Ta’ala, serta melupakan angan-angan yang muncul berharap agar rasa sakit yang sedang di rasakannya tersebut segera hilang walaupun terdapati rasa sakitnya, namun dengan adanya sikap ridho, akan menjadikan lebih ringan beban yang ada dalam badan dan memberi kabar gembira bagi hati dengan kenyakinan dan pemahaman yang sempurna, maka jika sikap ridho ini kuat menahan rasa sakit yang sedang di rasakan maka akan hilang dengan sendiri rasa sakit tersebut”. Ibnul Jauzi mengatakan “Kalau sekiranya dunia itu bukan tempatnya ujian maka tidak ada yang namanya penyakit, cemas, bimbang dan perasaan suram, kehidupan tidak terasa sempit bagi para nabi dan orang-orang pilihan. Nabi Adam tidak akan diuji sampai keluar dari dunia, Nabi Nuh menangis dalam waktu yang sangat panjang tiga ratus tahun lamanya, Nabi Ibrohim di lempar kedalam api dan diuji untuk menyembelih anaknya yang ia cintai, Nabi Ya’qub menangis karena kehilangan anaknya Yusuf sampai hilang penglihatanya, Nabi Musa dikejar Fira’un, bukan itu saja, namun kaumnya pun mendapat ujian dari kezaliman Fir’aun, Nabi Isa bin Maryam tidak ada tempat untuk berlindung baginya melainkan hidup dalam kesengsaraan. Dan Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam sabar dalam kehidupan yang serba kekurangan, terbunuhnya Hamzah bin Abdul Mutholib pamannya yang merupakan orang yang paling beliau cintai dari kalangan keluarganya, begitu juga ditinggal lari oleh kaumnya, pada pertama kalinya muncul dakwah beliau, mereka enggan untuk menerima dakwahnya. Dan selain mereka dari kalangan para Nabi dan para wali yang sangat panjang kalau mau di sebutkan semuanya, kalau benar sekiranya dunia ini di ciptakan untuk bersenang-senang dan mencari kelezatanya, tentu tidak akan mungkin bagi orang yang beriman mendapat kebahagian darinya. Sunguh benar apa yang di katakan oleh seorang panyair Dunia tempatnya kesedihan, kenapa engkau menginginkanya *** Tidak akan pernah dunia lepas dari ujian dan cobaan *** Dan sabar yang di maksud di sini, bukan hanya sekedar mampu menahan musibah yang menimpanya dan meneguk rasa sakit yang di alaminya serta kesedihan yang terasa menyekat di kerongkonganya, namun sabar di sini adalah sabar yang mampu mencari solusi permasalahannya dan sanggup menata kembali perkaranya, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan dakwah kepada Allah Azza wa jalla, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan mendidik dan bergaul dengan cara yang indah, adakalanya sabar di dalam mencari solusinya dengan kembali menikah dan istiqomah bersamanya, demikian seterusnya setiap masalah di butuhkan cara penyelesaian dan kesabaran dalam mencari solusinya. Keempat Berbaik Sangka Suatu hal yang wajib bagi kita semua yaitu suudhon dhon berbaik kepada Allah Azza wa jalla bahwa yang namanya pertolongan dan jalan keluar itu pasti dekat adanya, bahwa kesulitan itu selalu di iringi bersama kemudahan. Demikian juga berbaik sangka kepada orang lain yang punya masalah denganmu atau dengan orang merupakan sumber masalah tersebut, karena ada kemungkinan yang terjadi, mungkin dirinya mempunyai pandangan yang berbeda denganmu, atau dirinya paham tapi salah dalam memahaminya, atau bisa juga, sampai perkara padanya namun tidak sesuai dengan kenyataanya, karena tidak benar. Oleh karena itu berbaik sangka kepada sesama muslim akan menjadikan hati menjadi tenang, dan biasanya akan mudah memberi udzur kepada orang tersebut yang pada akhirnya menjadikan musibah itu terasa ringan, bisa membantu untuk memecahkan masalah tersebut dan menjadikan cara berpikir kita bersih dari hal-hal yang tidak di bolehkan. Sebagian problem terkadang muncul di sebabkan oleh berburuk sangka pada orang lain, yang di bangun di atas ketidakpahaman atau persangkaan yang tidak jelas atau juga cara pandang yang cekak. Dikisahkan bahwa ada seseorang yang mempunyai masalah dengan orang lain, marahnya telah memuncak, darahnya mendidih menahan marahnya yang meluap-luap, sampai dia mengancam anak-anak serta istri orang yang bermasalah tersebut, sedangkan orang yang bermasalah dengannya tersebut sedang dalam perjalanan keluar kota, namun sebelum pergi dia mengirim surat yang isinya meminta maaf dan meminta supaya di lupakan masalahnya serta merelakan haknya untuknya, namun pembawa surat ini yang menjadi titik permasalahanya karena telat menyampaikan surat tersebut sehingga menjadi sebab pertengkaran tersebut. Lihat kejadian di atas, orang tersebut telah menghina saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, mengangkat suara padanya, mengeluarkan semua keburukanya, sekarang apakah kamu bisa bayangkan kalau persaudaraanya akan kembali seperti sedia kala sebelum kejadian tersebut? Kemudian lihatlah pada kejadian yang lain dalam kisah berikut ini, ketika Hafsoh binti Umar semoga Allah meridhoi keduanya di tawarkan oleh bapaknya supaya di nikahi kepada Abu Bakar, maka Abu Bakar diam tidak menjawab apa-apa, kemudian dia menawarkan kepada Utsman, namun dia mengatakan “Pada saat sekarang saya lagi tidak punya keinginan untuk menikah”, maka Umar merasa sangat sedih, kemudian dirinya mengadu kepada Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Nabi Shalallahuu alaihi wa sallam lalu mengatakan kepadanya “Hafsoh akan di nikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikahi wanita yang lebih baik dari pada Hafsoh”. Kemudian Nabi Shalallahu alaihi wa sallam meminang Hafsoh, lalu Umar pun menikahkan Hafsoh dengan Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam, kemudian Utsman di nikahkan oleh Rasulallah dengan anaknya Ruqoyah setelah Utsman di tinggal mati oleh istri yang merupakan saudaranya Ruqoyah. Ketika Umar sudah menikahkan anaknya, dirinya bertemu dengan Abu Bakar, maka beliau meminta maaf sambil mengatakan “Saya tidak mempunyai niat apa-apa, kecuali saya pernah mendengar Rasulallah Shalallahu alahi wa sallam menyebut-nyebut nama Hafsoh maka saya tidak ingin membuka rahasianya beliau, kalau sekiranya Rasulallah tidak jadi menikahinya tentu saya akan menikahi anakmu”. Kelima Diam dan menyembunyikan problem yang sedang di alaminya Termasuk dari wejangan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam kepada umatnya dalam masalah ini yaitu menyembunyikan musibah yang sedang di alaminya, hal itu sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits, di mana Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من البر كتمان المصائب والأمراض والصدقة “Termasuk kebaikan adalah menyembunyikan musibah yang menimpanya, penyakit dan shodaqoh”. Oleh sebab itu jika musibah yang sedang menimpa mungkin bisa disembunyikan, maka menyembunyikannya adalah termasuk bentuk dari nikmat Allah Azza wa jalla yang lurus. Yang merupakan bagian dari rahasia dari rahasia-rahasia keridhoan pada Allah Ta’ala, yaitu dengan tidak selalu berkeluh kesah dan gelisah. Lihatlah kisah-kisah para ulama salaf karena sesungguhnya dalam kisah tersebut ada pelajaran bagi kita. Berkata al-Ahnaf salah seorang ulama salaf “Sungguh telah hilang penglihatanku semenjak empat puluh tahun yang lalu, dan saya tidak pernah mengasih tahu kepada seorang pun”. Ketika ada air yang tidak mau keluar dari salah satu mata Atha’, tidak ada seorang pun keluarganya yang tahu hal itu selama dua puluh tahun lamanya. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من إجلال الله، ومعرفة حقه أن لا تشكو وجعك ولا تذكر مصيبتك “Termasuk dari bagian memuliakan Allah Ta’ala dan mengetahui hakNya adalah tidak mengeluh pada setiap penyakit yang menimpamu dan tidak menyebut-nyebut musibahmu”. Yang perlu digaris bawahi di sini yaitu biasanya kalau seseorang itu telah hilang masalah darinya, pertama kali yang muncul dalam pikiranya adalah rasa sesal telah terlanjur mengasih tahu masalahnya kepada fulan atau kepada fulanah. Jika perkaranya demikian maka seorang hendaknya tidak menampakan masalahnya dan menyembunyikanya, dan termasuk menyebarkan masalah yang paling buruk adalah dalam masalah keluarga, maka terkadang di dapati seorang istri jika mempunyai masalah dengan suaminya, dirinya langsung mengadu kepada orang tuanya, sambil mencela suaminya dengan perkara-perkara yang tidak masuk pada inti masalah sebenarnya, dengan mengungkit-ngungkit kejelekanya yang lama maupun yang baru, sampai keluarga dan saudara-saudaranya jadi membencinya, sehingga pada saat itu menjadikan tali yang menghubungkan mereka menjadi terputus, terbesit rasa ingin lari darinya sampai kalaupun permasalahannya sudah reda dan dapat teratasi akan tetap tersisa kata-kata dan aduan yang telah di ucapkan oleh lisan yang membekas dalam hati mereka, yang menimbulkan rasa was-was tentang masa depan hubungan wanita tersebut dengan suaminya. Keenam Jadikan sesuai dengan porsinya dan tidak membesar-besarkan masalah Sebagian orang jika di timpa sebuah permasalahan, atau musibah merasa dunia seperti mau runtuh dan menjadi gelap gulita sambil menyangka bahwa dunia telah berakhir, namun perlu di ingat terkadang ada suatu perkara yang di benci oleh seorang manusia tapi ternyata Allah Ta’ala menjadikan itu adalah kebaikan yang banyak baginya, lihatlah firman Allah Ta’ala ini “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu..”. QS al-Baqarah 216. Saya masih ingat, kisah seorang pemuda dari Mesir ketika dia sedang di wawancarai, yang mana telah terjadi huru hara, pembunuhan dan fitnah yang sangat besar di kota mereka, dia mengatakan “Sungguh Allah telah memberi kasih sayangNya yang besar kepada saya, mana kala saya di penjara sebelum kejadian huru hara tersebut beberapa hari sebelum kejadiannya, kemudian saya di bebaskan selang beberapa minggu dari kejadian itu dengan keadaan selamat dan sehat, namun ketika saya keluar saya mendapati teman-teman saya dalam keadaan yang sangat mengenaskan, ada yang mati, ada lagi yang tertangkap dan di jebloskan kepenjara dengan masa tahanan yang sangat panjang, yang lain lagi badanya di rantai, kemudian yang lain…. Dia mengucapkan syukur dan memuji Allah Subhanahu wa ta’ala ketika tahu bahwa penjara itu lebih baik bagi dirinya dari pada yang terjadi pada teman-temanya yang lain, kalau sekiranya saya bersama mereka tentu kejadianya lain. Dikisahkan dari Suraih bahwasanya beliau pernah mengatakan “Sungguh saya pernah ditimpa sebuah musibah, maka saya mengucapkan rasa syukur dan memuji kepada Allah Ta’ala atas musibah tersebut sebanyak empat kali, yang mana musibah tersebut tidak lebih besar dari yang saya alami, dan mana kala Allah memberi saya nikmat untuk bisa sabar dengan musibah tersebut, dan ketika Allah memberi saya taufik untuk bisa mengucapkan kalimat istirjaa’ dengan harapan saya bisa mengambil pahalanya nanti, dan yang terakhir mana kala musibah tersebut bukan terjadi pada agamaku”. Ketujuh Mencari solusinya dengan cara yang baik Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, diriwayatkan. “ليس الشديد بالصرعة، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب” متفق عليه. Datang seorang sahabat kepada Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam dan mengatakan kepada beliau,r فقال أوصني قال “لا تغضب” رددها مرارا، وقال rجاء رجل إلى النبي “Ya Rasulallah berilah aku wasiat”. Beliau berkata “Jangan marah”. Orang tersebut masih mengulang-ulang terus, lantas Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda “Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah”. Mutafaqun alahi. Kemarahan biasanya itu menutupi cara berpikir yang sehat dan mengarahkan pada cara berpikir yang bengkok dan menyimpang, yang bilamana keduanya ada maka dia akan menguasai sikap sentimental. Oleh karena itu di anjurkan supaya tenang ketika sedang marah, dan menahan dengan cara yang baik tanpa terpancing emosi dengan situasi yang sedang terjadi, betapa banyak kita bisa mencontoh pada wanita yang berakal, di dalam menghadapi kemarahan suaminya, yang mana dia menghadapinya dengan cara yang baik dan tenang tidak terpancing ikut emosi, maka tidak lama kemudian suaminya pun kembali lagi kedalam pangkuannya. Dan manusia banyak yang telah mencoba cara yang satu ini, oleh karena itu tidak salah kalau Allah Subahanahu wa ta’ala menyuruh Nabi yang mulia, seperti dalam firmanNya قال الله تعالى {…. ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ٣٤ } [سورة فصلت 34] “Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, jika ada orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. QS Fushilat 34. Sebagian orang ada yang menggunakan cara yang bagus dalam menghadapi masalah seperti ini, ada orang yang takut bilamana sampai terjadi permusuhan dengan teman kerja sekantornya, atau juga dengan keluarga atau saudaranya, dia memilih untuk berbuat baik kepada mereka sebelumnya, dengan cara memberi hadiyah padanya, berkata dengan lemah lembut ketika sedang berbicara bersama mereka untuk mencegah sikap buruk dari mereka, dan sebelum sampai berubah permusuhan menjadi pertengkaran secara fisik, seperti misalkan, seorang pimpinan yang berlaku lembut pada anak buahnya, atau seorang suami pada istrinya, atau yang lainnya. Dan solusi seperti ini nyata dan banyak memberi manfaat di dalam meminimalisir permusuhan dan pertengkaran. Delapan Seseorang melihat seberapa jauh problem yang sedang di hadapinya sampai dia bisa melihat kalau itu bukan sesungguhnya. Problematika kehidupan itu beragam dan bertingkat-tingkat adanya, demikian pula hati manusia juga beragam dan bertingkat-tingkat, ada yang kuat menanggung beban, ada yang bisa sabar dan ada lagi yang tabah. Terkadang dirimu mempunyai masalah namun orang lain lepas dari masalah, oleh karena itu supaya bisa untuk berpikir dan melihat dengan jelas sebuah masalah, seseorang melihat jauh kedepan sampai batas akhir musibah tersebut, dan melihat bahaya apa yang paling berat dari dampak musibah itu, jika seorang istri di cerai oleh suaminya maka Allah Azza wa jalla telah memberi rizki baginya lebih baik dari yang pertama, jika di tinggal meninggal oleh bapak atau ibunya, maka sesungguhnya ini adalah ladang beramal untuk akhirat, hendaknya dia merasa bahagia dan memuji Allah Ta’ala karena walau pun telat namun masih di beri tahu masalah sebenarnya, demikian seterusnya setiap masalah di beri porsi yang sesungguhnya jangan sampai membesar-besarkanya, seolah-olah kalau seseorang itu di timpa sebuah musibah atau masalah dunia seperti kiamat yang sudah tidak ada jalan keluar lagi kecuali tinggal menunggu kehancuranya. Kalau sekiranya orang yang mempunyai masalah tersebut melihat pada problematikanya serta kejadian-kejadian yang lewat pada dirinya pada masa lalu, bagaimana sampai bisa keluar dan selsai dari masalah tersebut? Tentu ia akan mengetahui bahwa hari itu selalu datang silih berganti, dan dia akan lupa dengan segala musibah yang pernah menimpanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sembilan Banyak beristighfar Mengadu kepada Allah Azza wa jalla dan meminta pertolongan serta taufikNya adalah merupakan sebab terbesar dari sebab-sebab yang ada untuk bisa melapangkan hati yang sempit dan keluar dari sebuah perkara, dan termasuk dari faidah sebuah musibah yang menimpa seseorang, yang sedang di uji oleh Allah Azza wa jalla yaitu salah satunya menjadi terpukul sehingga mau kembali kepada Rabbnya, berdo’a kepadaNya dan bersimpuh di hadapanNya. Dan di antara bentuk kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah banyak beristighfar. Di mana Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “من أكثر من الاستغفار، جعل الله عز وجل له من كل هم فرجا، ومن كل ضيق مخرجا، ورزقه من حيث لا يحتسب” [رواه أبو داود]. “Barangsiapa yang banyak mengucapkan istighfar, maka Allah Azza wa jalla menjadikan baginya setiap kesedihan jalan keluar, setiap kesempitan di bukakan pintu keluarnya, dan di beri rizki dari arah yang tidak di sangka-sangka”. HR Abu Dawud. Termasuk bagian dari nikmat Allah Ta’ala pada kita semua adalah memudahkan bagi kita untuk menggerakan lisan kita dengan sangat mudahnya di banding dengan anggota badan lainnya, tidak ada kesulitan yang berarti bagi kita untuk menggerakan lidah untuk mengucapkan kalimat istighfar. Sepuluh Berdo’a dengan do’a-do’a yang shahih dari Nabi Shalallahu alaihi wa sallam Rasulallah Shalallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita umatnya tatkala turun sebuah musibah atau terkena sebuah masalah do’a-do’a untuk menghilangkan kesedihan dan kegelisahan yang ada, adalah beliau jika tertimpa sebuah kesulitan apa pun jenis, beliau mengucapkan قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث”. “Wahai Dzat yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri, dengan kasih sayangMu saya memohon pertolonganMu”. Di dalam sebuah hadits shahih yang lainnya, adalah beliau jika turun padanya kesukaran dan kesedihan, beliau mengucapkan قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “يا حي يا قيوم، برحمتك أستغيث ، الله ربي لا أشرك به” [صحيح الجامع 4791]. ” Wahai Dzat yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri, dengan kasih sayangMu saya memohon pertolonganMu, Allah Rabbku, yang aku tidak menyekutukan denganNya”. Shahuhul Jami’ no 4791. Dalam sebuah do’a menghilangkan kesedihan dan kesulitan, di sebutkan dalam sebuah hadits yang agung ini قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اللهم إني عبدك، وابن عبدك، وابن أمتك ناصيتي بيدك، ماض في حكمك، عدل في قضاؤك، أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك، أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك، أن تجعل القرآن ربيع قلبي، ونور صدري، وجلاء حزني، وذهاب همي” [رواه الإمام أحمد]. “Ya Allah, sesungguhnya aku ini adalah hambaMu, anak dari hambaMu laki-laki, anak dari hambaMu perempuan, ubun-ubunku berada di tanganMu, mengikuti keputusan takdirMu dan berjalan sesuai dengan ketetapanMu. Aku memohon kepadaMu dengan setiap nama yang menjadi milikMu, nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diriMu, atau yang Engkau sebutkan dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hambaMu Nabi, atau yang Engkau sembunyikan di alam keghaibanMu, hendaknya Engkau menjadikan al-Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku dan penolak rasa gundahku”. HR Ahmad Dalam sebuah hadits di sebutkan do’a untuk membayar hutang. Sebagaimana yang shahih dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك” [رواه الترمذي]. “Ya Allah cukupkan saya dengan rizkiMu yang halal dari yang haram, berilah saya kekayaan dengan karuniaMu, yang tidak ada selain dariMu”. HR Tirmidzi. Dalam hadits yang lain beliau berdo’a قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن والعجز والكسل، والبخل والجبن، وضلع الدين وغلبة الرجال” [رواه مسلم 4/ 1729]. “Ya Allah saya berlindung denganMu dari kesulitan dan kesedihan, dari ketidak mampuan dan kemalasan, dari sikap bakhil dan pengecut, dari terlilit hutang dan di kuasai orang lain”. HR Muslim no 1729. Dan do’a ketika di timpa sebuah kesusahan apa pun bentuknya قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اللهم لا سهل، إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا” [رواه أبو داود]. “Ya Allah tidak ada kemudahan, melainkan yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkau jadikan kesedihan menjadi mudah jika Engkau kehendaki”. HR Abu Dawud. Dan do’a sangat bermanfaat untuk menghilangkan sebuah musibah baik sebelum turunya bencana tersebut mau pun sesudah turunya, hal itu sebagaimana di jelaskan dalam sebuah hadits shahih dari Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”فلا يرد القضاء إلا الدعاء” [صحيح الجامع 7564]. “Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali do’a”. Shahihul jami’ no 7564. Sebelas Tawakal kepada Allah Azza wa jalla Termasuk dari bentuk nikmat Allah Azza wa jalla tatkala turun bencana maupunn musibah, yaitu kita langsung cepat-cepat kembali untuk taat kepada Allah Ta’ala dan beribadah kepadaNya, kita juga bisa merasakan kelezatan manakala kita sedang berdo’a dan memohon kepadaNya supaya di mudahkan segala urusannya. Adapun kedudukan yang paling tinggi dalam sebuah ibadah dan amalan yaitu kedudukan tawakal kepada Allah Azza wa jalla, menyerahkan segala urusan dan hasilnya kepada Allah Ta’ala, sedangkan dalam tawakal itu sendiri dapat menguatkan jiwa, menjadikan hati berani menerima apa pun hasilnya, menjadi tenang dan tentram. Allah Azza wa jalla sendiri sangat mencintai orang-orang yang mempunyai sifat yang agung ini sebagaimana yang tertera jelas dalam firmanNya إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ } [سورة آلِ عِمۡرَانَ 159]قال الله تعالى { “Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. QS al-Imran 159. Sedangkan orang yang telag di cintai oleh Allah Ta’ala maka dirinya tidak di adzab, tidak di jauhkan dariNya, dan tidak terhalangi untuk melihat Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat nanti. Dalam sebuah ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman سورة الطَّلَاقِ 3 وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚقال الله تعالى “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”. QS ath-Thalaaq 3. Dalam ayat ini sebagai dalil yang kuat tentang keutamaan tawakal, di mana tawakal merupakan sebab terbesar untuk memperoleh maslahat dan menolak mara bahaya. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala mengatur segala urusan alam ini sesuai dengan yang Ia kehendaki, di tanganNya segela perkara di bolak-balikan. Allah Ta’ala berfirman يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦۚ } [سورة يُونُسَ 3]قال الله تعالى { “kemudian Dia bersemayam di atas Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya”. QS Yunus 3. Hendaknya kita semua merasa yakin bahwa apa yang kita kerjakan untuk segera bisa keluar dari sebuah masalah hanyalah merupakan sebab dan sarana namun tetap yang mengatur alam ini adalah Allah Azza wa jalla, maka apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Ia kehendaki kejadianya pasti tidak akan terjadi. Perhatikan pada hadits yang agung ini, di mana Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda kepada anak pamannya Ibnu Abbas قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”.. واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف” [رواه الترمذي]. “Ketahuilah kalau sekiranya umat ini bersatu untuk memberi sesuatu manfaat kepadamu maka itu tidak akan bermanfaat bagimu melainkan dengan sesuatu yang memang sudah di tentukan oleh Allah Ta’ala bagimu, dan begitu juga kalau sekiranya umat ini berkumpul untuk memberi bahaya padamu maka tidak akan berbahaya kepadamu melainkan dengan sesuatu yang memang sudah di tentukan oleh Allah Ta’ala padamu, telah di angkat pena, dan telah kering catatan tersebut”. HR Tirmidzi. Dua belas Berbuat baik pada sesama, baik ucapan, perbuatan, dan segala bentuk kebaikan lainnya Termasuk dari sebab yang dapat menghilangkan kesusahan, kesedihan dan kegelisahan adalah berbuat baik kepada sesama makhluk, baik itu dengan ucapan atau perbuatan dan segala macam bentuk kebaikan. Allah Ta’ala berfirman “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. QS an-Nisaa’ 114. Berkata syaikh Abdurahman bin Sa’di dalam tafsirnya “Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan bahwa semua perkara ini semuanya baik, yang semuanya bersumber dariNya, dan kebaikan pasti akan menjadikan baik dan mencegah keburukan. Dan seorang mukmin yang mengharap pahala dari Allah Ta’ala, maka ia akan di beri ganjaran yang sangat besar, di antara bentuk dari ganjaran tersebut yaitu hilangnya kesedihan, kesusahan, kekhawatiran dan yang lainnya”. Dalam kesempatan yang beliau juga mengatakan “Tanda kebahagian seorang hamba yaitu ada pada keikhlasanya kepada Allah Azza wa jalla dan gemar untuk memberi manfaat apa saja bagi sesama orang”. Tiga belas Banyak berdzikir kepada Allah Azza wa jalla Termasuk sebab supaya hati bisa menjadi lapang dan lebih khusus lagi rasa sedih akan segera hilang tatkala turun sebuah musibah yaitu banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala tanpa mengenal batas setiap waktu dan keadaan, maka kalau mau mempraktekan hal itu dirinya akan menemukan dampak yang luar biasa pada tenang, tentram dan lapangnya hati. Allah Ta’ala berfirman “Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram”. QS ar-Ra’du 28. Seperti berdzikir sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam ayat ini “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. QS al-Imran 173. Do’a inilah yang di ucapkan oleh Nabi Ibrahim tatkala beliau di lempar masuk kedalam kobaran api. Dan Nabi Shalallah alaihi wa sallam ketika di katakana pada beliau ayat ini “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. QS al-Imran 173. Maka beliau mengucapkan قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “لا حول ولا قوة إلا بالله” [ رواه البخاري]. “Tiada daya dan upaya melainkan dari Allah Ta’ala” HR Bukhari. Ringkas kata bahwa dzikir kepada Allah Azza wa jalla mempunyai dampak yang besar untuk bisa meraih apa yang di inginkan, lebih khusus dari itu kalau sekiranya dalam berdzikir tersebut seorang hamba mengharap kepada Allah Ta’ala pahala dan ganjaranNya. Empat belas Jangan sampai mendatangi perkara yang haram Jika ada seorang yang mempunyai sebuah masalah dan dirinya mengetahui sebabnya, seperti halnya mempunyai masalah cerai dengan istri atau suaminya atau berpisah atau yang lainya dari masalah kehidupan yang ada, maka biasanya dia berusaha keras untuk mencari solusi dan jalan keluarnya dari perkara yang baru di alaminya tersebut, terkadang perkaranya sulit dan jalan keluarnya seperti tertutup terlebih lagi di barengi dengan rasa takut dan lemah, maka terkadang terlintas di dalam pikiranya niat untuk mengerjakan sesuatu yang tidak di bolehkan, seperti misalnya pergi ke paranormal, dukun atau tukang sihir. Yang terkadang sebagian orang menyangka bahwa itu bisa menyelesaikan masalah atau dapat menyembuhkan rasa sakitnya, atau sebagian menolak sakit tersebut dengan menggembalikan, seperti sangkaan mereka, kepada pelakunya dengan menggunakan sihir kembali, yang merusak dan menghancurkan kehidupanya, sebagai bentuk balsan padanya. Maka perbuatan semacam ini tidak di bolehkan. Adapun anda, wahai orang yang sedang di timpa musibah, maka Allah Ta’ala yang akan memberi ganjaran padamu, jika engkau sabar, jangan kamu rusak kehidupanmu dengan berbuat maksiat kepada Allah Azza wa jalla, baik maksiat itu dengan sihir, mengganggu orang lain atau yang lainya. Lima belas Adakalanya kamu membenci sesuatu padahal itu adalah yang terbaik buat dirimu Pandangan seseorang itu sangat terbatas sedangkan ilmu dan pemahamannya juga sedikit, tidaklah dirinya melihat pada hari ini di timpa oleh musibah dan bencana yang terkadang pada akhirnya pada masa yang akan datang sebagai bentuk pemberian dan anugrah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman سورة البقرة 216 وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦ قال الله تعالى “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. QS al-Baqarah 216. Di dalam ayat ini ada beberapa hukum, rahasia dan kemaslahatan bagi seorang hamba. Maka jika seorang hamba mengetahui bahwa sesuatu yang ia benci terkadang bisa mendatangkan dengan sesuatu yang ia cintai, atau kebalikanya kalau yang ia cintai tersebut terkadang bisa mendatangkan yang ia benci, sehingga tidak menjamin bahwa datangnya kerusakan tersebut tidak mempunyai sisi kebaikan sama sekali, dan jangan sampai dirinya berputus asa mana kala datang kepadanya kemudahan dari sisi kerusakan yang ikut bersamanya, di karenakan dirinya tidak mengetahui akhir dari akibat itu semua. Dan sesungguhnya Allah Azza wa jalla mengetahui itu semua yang tidak di ketahui oleh hamba-hambaNya. Betapa banyak di dapati ada seorang wanita yang di cerai oleh suaminya, namun dengan sebab cerai tersebut menjadi kebaikan bagi dirinya, dalam keadaan mengharap pahala dan ganjaran, sabar dan berharap, ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla, yang pada akhirnya terkadang datang kepada wanita tersebut orang pria yang lebih baik dari suaminya yang pertama. Betapa banyak di jumpai seorang bapak yang nampak pada benaknya kekhawatiran terhadap anak-anaknya, maka dengan sebab itu menjadi langkahnya untuk segera mengoreksi dan memperbaiki perkara dirinya dalam mendidik anak-anaknya, sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Betapa banyak orang yang mendapat apa yang ia dapat, yang pertama kai dirasakan adalah kesedihan namun pada akhirnya kebahagian dan kesenangan yang ia peroleh. Enam belas Ingat kematian, kubur, dan hari kiamat Instropeksi diri sendiri sekarang menjadi suatu barang yang sangat langka di kerjakan oleh manusia terlebih pada zaman ini, dan manakala turun sebuah musibah baru dirinya menghadap kepada Allah Azza wa jalla dengan hatinya, setelah itu ia sadar bahwa dirinya sangat kurang sekali pada sisi ini untuk mengoreksi diri sendiri, sedangkan akalnya mengetahui bahwa kehidupannya yang di inginkan yaitu kehidupan yang bahagia dan tentram namun dirinya sadar bahwa itu sangat pendek, tatkala musibah membesar maka perkaranya menjadi jelas kelihatan, kalau kehidupan tersebut sangat kecil sekali di depan kematian dan sakratul maut, oleh karena itu jika dirinya ingat kematian maka perkaranya menjadi ringan dan akan menjadikan dirinya zuhud terhadap dunia, musibah menjadi terasa ringan dan mudah, terbayang pada dirinya apa yang akan di alaminya nanti pada keadaan yang lebih hebat dan dahsyat dari musibah yang di alaminya, yaitu pada hari kiamat ketika semua di nampakan di hadapan Allah Azza wa jalla. Orang-orang beriman mereka adalah orang-orang yang paling sabar ketika mendapat musibah, teguh di dalam kesulitan yang di hadapinya, ridho terhadap rasa sakit yang di rasakanya, karena mereka tahu kalau umur dunia ini sangatlah pendek di banding dengan kehidupan akhirat nanti yang kekal abadi, mereka tidak rakus untuk menjadikan dunia ini sebagai surga sebelum surga yang sebenarnya pada hari akhir nanti. Tujuh belas Berusaha mencari keridhoan Allah Azza wa jalla Ini adalah perkara yang besar, yang sebagian orang telah lalai darinya, terkadang masalahnya bisa di temukan jalan keluar namun di dalamnya ada perkara yang samar atau yang makruh, atau pada asalnya memang sudah tidak di bolehkan, seperti halnya, dirinya langsung mengutamakan ridho atasanya pada perkara yang haram, atau seorang istri lebih mencari ridho suaminya pada suatu hal yang di haramkan. sedangkan Allah Subhanahu wa ta’ala murka pada orang yang mencari ridho makhlukNya dari pada ridhoNya. Hal sebagaimana yang di katakan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dalam sebuah sabdanya قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”من التمس رضا الله بسخط الناس كفاه الله مؤونة الناس ومن التمس رضا الناس بسخط الله وكله الله إلى الناس” [رواه الترمذي]. “Barangsiapa yang mencari ridho Allah dengan kemarahan manusia maka Allah akan mencukupkan dirinya dari manusia, dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah akan serahkan urusanya pada manusia”. HR Tirmidzi. Oleh sebab itu hendaknya kita berusaha di dalam mencari jalan keluar dan gagasan atau ide bukan sesuatu yang di dalamnya ada yang di haramkan, sama saja apakah itu menzalimi dirinya sendiri atau yang mengakibatkan kepada keharama Allah Ta’ala atau juga menzalimi orang lain dengan membuang hak-haknya mereka, maka tidak pernah di temukan adanya kebahagian di dalam maksiat kepada Allah Azza wa jalla. Delapan belas Sebisa mungkin hindari dahulu menggunakan badan hukum, seperti polisi atau pengadilan, selagi perkaranya bisa di selesaikan secara kekluargaan Yang namanya problem manusia itu berbeda-beda, dan di dalam menghadapinya, kalau sudah dengan cara yang bagus, sabar dan tenang, tidak tergesa-gesa, sebetulnya sudah cukup untuk bisa mencari solusi dan menyelesaikan masalahnya, oleh karena itu hendaknya tidak berpikiran sebisa mungkin untuk segera mengangkat masalahnya pada badan hukum resmi, sehingga menjadikan pikiran tambah kalut, hati menjadi terasa sempit dan menambah permusuhan. Bahkan terkadang bisa jadi masalah tambah menjadi besar, kejelekanya tambah meluas, dan menambah panjang masalahnya, maka hendaknya menggunakan badan hukum sebagai akhir solusi ketika sudah buntu tidak menemukan cara yang lain, tentunya setelah memasukan orang ketiga yang bisa sebagai wasilah, dan setelah mengingatkan akan Allah Azza wa jalla supaya takut kepadaNya. Karena sebagian perkara terkadang solusinya ada melalui cara syar’i yang di dalamnya menjaga hak-hak masing-masing orang, khususnya jika salah satu di antara yang bermusuhan penyebabnya karena sombong, atau bodoh, melanggar haknya, iri atau dengki. Sembilan belas Bertutur kata yang lembut dan mempunyai tata krama dalam memberi dan mengambil Sebuah permasalahan bisa terkalahkan bersama dengan cara yang bagus dalam mengatasinya, meringankan kejadianya dan meredam agar tidak memuncak, melihat setiap sisi yang ada dalam masalah tersebut dengan kacamata nyata bukan khayalan di barengi dengan memunculkan kebaikan-kebaikan yang ada dan menutup hal-hal yang negative, dalam contoh seperti ini sangat di perlukan ketika sedang dalam masalah rumah tangga antara suami dan istri, atau juga dalam masalah hubungan dengan saudara karib kerabat, teman sejawat atau ketika masalah itu terjadi bersama dengan tetangga. Karena hubungan bersama dengan orang-orang yang tadi, hubunganya panjang dan akan terus berlanjut, jadi jangan sampai hubungan tersebut di di koyak-koyak dengan tingkah laku yang buruk pada mereka atau di koyak dengan kalimat yang melukai persaannya. Namun wajib bagi dirinya untuk menjaga hubungan tersebut dengan baik. Perhatikan baik-baik firman Allah Subhanahu wa ta’ala berikut ini “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. QS al-Imran 134. Dalam ayat di atas di sebutkan supaya perkaranya berkesinambungan mulai dari tingkatan bawah yaitu menahan amarahnya kemudian memaafkan kesalahan orang tersebut dan setelah itu naik lagi dengan berbuat baik kepadanya. Barangsiapa yang melakukan salah satu dari tiga cabang yang terpuji ini maka dirinya akan mendapati dampak yang luar biasa besarnya, lalu apa kiranya jika sampai ada orang yang di beri taufik oleh Allah Ta’ala untuk bisa melakukan semua cabang tersebut?!. Dua puluh Menambah wawasan bagaimana cara menyelesaikan sebuah masalah Jika kepala di hadapkan dengan sebuah kapak, sebagaimana ada sebuah ungkapan sesorang supaya cepat untuk memperbaik sebelum ketinggalan dan keburu pergi, maka sebaik-baik bekal yang bisa menambah ilmu dan amal adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah NabiNya Shalallahu alaihi wa sallam. Di dalam buku-buku Islam atau juga dalam kaset-kaset ceramah agama ada begitu banyak cara yang di sebutkan dalam maslah ini, ia bagaikan sebuah obat yang manjur dengan izinnya Allah untuk mengatasi berbagai macam bentuk problematika yang ada, dan sekarang alhamdulilah took kaset dan buku sangat banyak bertebaran, dengan judul yang berbeda-beda, seperti misalnya kaset atau buku yang membahas tentang hubungan keluarga antara suami dan istri, atau bagaimana cara mendidik anak, atau bagaimana menjalin hubungan dengan kerabat, dan lain sebagainya, yang banyak sekali untuk di sebutkan satu persatu. Dua puluh Satu Banyak berdo’a dan merendahkan diri kepada Allah Azza wa jalla Tidak sampai kita di hampiri yang namanya kesedihan kesusahan melainkan di sebabkan oleh banyaknya dosa-dosa yang kita lakukan, hal itu persis sekali sebagaimana yang Allah Azza wa jalla firmankan dalam kitabNya yang suci, Allah berfirman قال الله تعالى { فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ٤٠ } [سورة العَنكَبُوتِ 40] “Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. QS al-Ankabut 40. Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman قال الله تعالى { وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ ٣٠ } [سورة الشُّورَىٰ 30] “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu”. QS asy-Syuura 30. Lihatlah Muhammad bin Sirin ini berkata tatkala dirinya di tagih hutang, maka dirinya sadar dengan mengatakan “Sesungguhnya saya tahu kalau kesulitan ini di sebabkan dosa yang saya lakukan empat puluh tahun yang lampau”. Berapa banyak yang telah kita lampaui aturan Allah Ta’ala tersebut, betapa banyak dosa dan maksiat yang sudah kita lakukan, namun Allah Subhanahu wa ta’ala masih saja menyayangi kita dan memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kita, mana kala orang itu kondisinya dalam keadaan lemah tatkala di timpa musibah, maka di bukankan baginya pintu kembali dan taubat kepada Allah Ta’ala, dan ingatlah bahwa sesungguhnya Allah Azza wa jalla Maha menerima taubat dari para hambaNya dan mengampuni dari kesalahan-kesalahanya. Ada sebuah kata-kata mutiara yang patut kita camkan, di katakan “Tidaklah bencana itu turun melainkan dengan sebab dosa yang telah di kerjakan, dan tidak mungkin bencana itu hilang melainkan dengan taubat kepada Allah Azza wa jalla”. Dua puluh dua Jangan menganggap ringan dalam masalah usil dengan orang lain Setiap muslim mengetahui kalau menyakiti orang lain lebih khusus lagi kalau menyakitnya dengan ucapan yang jelek dan tuduhan keji, bahwa itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak banyak merugikan dirinya, namun yang merugikan mereka yaitu khususnya jika kamu tahu ucapan yang sangat indah dari Imam Syafi’i yang mana beliau pernah mengatakan “Barangsiapa yang menyangka bahwa dirinya bisa selamat dari celaan orang lain maka dia adalah orang yang gila, karena ada orang yang mengatakan “Bahwa Allah itu adalah tiga tapi jadi satu aqidah trinitasnya orang ada lagi yang mengatakan kalau Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam adalah tukang sihir dan orang gila, lantas apa pendapatmu dengan yang lebih rendah dari Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam tentu lebih tidak selamat lagi dari celaan orang”. Kedudukan Rububiyah ke saja masih tidak selamat dari ucapan dan tudahan keji, begitu juga kedudukan kenabian tidak bisa selamat dari kata-kata kotor dan keji, lalu apa jadinya dengan pembicaraan dan ucapan orang lain terhadapmu, maka itu lebih mungkin lagi terjadi. Oleh karena itu peganglah do’a ini قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “اللهم اكفينهم بما شئت”. “Ya Allah cukupkanlah hamba dari kejelakan mereka dengan yang Engkau kehendaki”. Barangsiapa yang mau menjaga lisannya maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan memuliakan dirinya dengan ganjaran dan pahala terlebih kalau mau menjaga lisannya pada perkara mengejek orang lain, atau menggunjing mereka atau membeberkan rahasia mereka pada orang banyak atau yang lainnya. Dan kabar gembira baginya dengan kebaikan yang akan di hadiahkan kepadanya sedangkan dirimu sudah lupa tidak teringat apa-apa lagi, kecuali nanti ketika di bagikan catatan amalan kamu baru teringat hal tersebut, pada hari yang sangat agung yaitu hari kiamat. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam memberi nasehat yang sangt agung pada kita semua dengan sebuah sabdanya قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”أمسك عليك لسانك، وليسعك بيتك، وابك على خطيبتك” [رواه الترمذي ] “Jagalah lisanmu, dan lindungi rumahmu, menangislah kamu dari kesalahan yang telah kamu perbuat”. HR Tirmidzi. Dua puluh tiga Segera mendatangi sholat berjamaah Di dalam sholat ada ketenangan jiwa dan ketentraman bagi pikiran, sholat merupakan pintu dari pintu-pintu yang denganya bisa membantu untuk menghilangkan dan menutup penatnya dunia. Allah Ta’ala berfirman “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. QS al-Baqarah 45. Adalah Nabi Shalallahu alaihi wa sallam mengatakan kepada Bilal “Wahai Bilal berilah kita waktu jeda dari kesibukan dunia dengan sholat”. Di dalam sholat kita bisa mengeluarkan keluh kesah dan gundah kelana yang sedang kita rasakan kepada Allah Azza wa jalla ketika kita sedang sujud, menunjukan kepasrahan dan ketundukan di hadapanNya, sungguh di dalam sholat ada kenikmatan yang besar, di mulai dari berwudhu kemudian sholat, ketika engkau berdiri untuk sholat maka tidak ada lagi penghalang tabir antara dirimu dan Allah Azza wa jalla. Sesungguhnya sholat merupakan nikmat yang agung sebagai penengah antara problematika dan kesedihan, rasa bahagia dan senang mana kala bermunajat kepada Rabb alam semesta untuk memotong sulitnya kehidupan di dunia ini. Dua puluh empat kabar gembira dengan pahala yang besar Allah Ta’ala telah menjanjikan pahala dan ganjaran yang besar, akan mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahan-kesalahannya, bagi siapa saja yang sedang di timpa kesedihan, kesusahan, dan kegalauan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang orang-orang yang sedang di rundung musibah “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. QS az-Zumar 10. Dalam sebuah hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”ما يصيب المؤمن من وصب ولا نصب ولا هم ولا حزن ولا غم ولا أذى حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله بها من خطاياه” [متفق عليه]. “Tidaklah seorang mukmin itu di timpa rasa sakit, tidak pula cobaan, kesedihan, kesusahan dan kegalauan, tidak juga musibah sampai duri yang di injaknya melainkan Allah akan menghapus dengan sebab itu dari kesalahan-kesalahanya”. Mutafaq’alaihi. Ketika Ummu Ibrahim yang ahli ibadah itu di tabrak seekor kuda sampai mematahkan salah satu kakinya sehingga para tetangganya datang untuk menjenguknya, dia mengatakan “Kalau lah sekiranya tidak ada cobaan di dunia ini, tentulah kita akan meninggalkan dunia ini bagaikan orang yang bangkrut”. Tatkala tali sendalnya Khalifah Umar bin Khatab semoga Allah meridhoinya putus maka beliau mengucapkan kalimat istirjaa’ sambil mengatakan “Setiap sesuatu yang jelek maka itu merupakan musibah bagimu” Berkata Ibnu Abi Dunya “Mereka para salaf mengharap ketika terkena demam semalaman, supaya bisa menghapus dosa-dosanya yang telah lampau”. Imam Nawawi mengatakan di dalam kitabnya syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”ما من مسلم يشاك بشوكة فما فوقها، إلا كتب له بها درجة ومحيت عنه بها خطيئة” وفي رواية “إلا رفعه الله بها درجة، أو حط عنه خطيئة”. “Tidaklah seorang muslim terkena duri atau yang lebih besar dari duri, melainkan di tulis supaya di naikan satu derajat baginya dan di hapus dengan sebab itu kesalahannya”. Dalam riwayat yang lain “Melainkan Allah Ta’ala akan mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahanya”. Beliau, Imam Nawawi mengatakan “Di dalam hadits-hadits ini sebagai kabar gembira yang agung bagi kaum muslimin, sesungguhnya walaupun sedikit saja ada salah seorang muslim yang tertimpa dari perkara-perkara ini, maka di dalamnya ada penghapus dosa dan kesalahan, baik itu dengan penyakit, cobaan, musibah dunia dan kesedihannya, walaupun hanya sedikit yang dia rasakan”. Dua puluh lima Mengetahui bahwa musibah yang di alaminya bukan yang terbesar Bencana dan musibah itu biasanya jenis dan tingkatanya pasti berbeda-beda dan setiap jenisnya sesuai dengan kondisi yang ada, namun ada bencana yang paling besar yaitu bencana yang menimpa di dalam agama seseorang, ia merupakan bencana yang paling besar yang ada di dunia ini, sedangkan di akhirat nanti ia akan menjadi bumerang baginya, orang yang terkena musibah di dalam agamanya seperti halnya kerugian yang tidak ada kesempatan untuk bisa untung lagi setelahnya, mengharamkan sesuatu yang seharusnya tidak di inginkan bersamanya. Dan mengherankan sekali kalau ada seorang wanita yang merasa sedih, susah dan gundah mana kala di tinggal oleh suaminya untuk menikah lagi, sedangkan beberapa bulan sebelum kejadian tersebut dia memasukan kerumahnya televisi lengkap dengan parabolanya, yang isinya pebuh dengan kemungkaran, namun dirinya tidak merasa sedih dan khawatir seperti halnya tatkala di tinggal suaminya menikah lagi, sedangkan suami menikah lagi adalah perkara yang di bolehkan dalam agama, Subhanallah Maha Suci Allah Yang Maha Agung ketika fitrah manusia sudah terbolak-balik. Dua puluh enam Memperhatikan nikmat-nikmat Allah Azza wa jalla yang lainnya Termasuk sebab terbesar untuk meringankan musibah yang menimpa, yaitu seseorang merasakan nikmat-nikmat Allah Azza wa jalla yang telah di berikan kepadanya, ada nikmat hidup, di mana dirinya masih bisa sholat, beristighfar dan berpuasa. Ada lagi nikmat kedua kaki yang bisa ia gunakan untuk berjalan tanpa harus menggunkan kursi roda. Ada lagi nikmat yang lain yaitu di beri dua tangan, dua mata dan nikmat-nikmat yang lainnya, di banding dengan orang yang mengalami lumpuh mau pun buta, begitu seterusnya. Berkata sebagian ulama salaf “Mengingat nikmat-nikmat Allah akan melahirkan kecintaan kepada Allah Ta’ala”. Ketika ada seseorang melihat di tangan Muhammad bin Waasi’ bisul yang bernanah maka dirinya kaget terperanjat, lalu Muhammad bin Waasi’ berkata padanya “Alhamdulillah saya masih bersyukur yang mana Allah Ta’ala tidak menjadikan penyakit ini di lidahku, tidak juga di ujung kedua mataku ini”. Ada seorang laki-laki yang datang kepada Yunus bin Abid mengadu padanya keadaan dirinya yang selalu saja susah mencari penghidupan, berharap dirinya mendapat bantuan atau saran dari beliau, Yunus bin Abid mengatakan “Maukah kedua matamu itu saya ganti dengan seratus ribu dirham? Dia cepat menjawab “Tentu tidak, ya Syaikh? Beliau bertanya lagi “kalau begitu kedua telingamu? Lidahmu? Akal pikiranmu? Dia pun tetap tegas menjawab “Tentu tidak mau”. Lantas beliau menyebut beberapa nikmat Allah Ta’ala lainya yang telah di berikan padanya, kemudian Yunus bin Abid berkata padanya “Sekarang kamu mempunyai puluhan ribu juta dan kamu masih saja mengeluh masih kekurangan?! Sesungguhnya seseorang jika selalu mengingat nikmat-nikmat Allah Azza wa jalla yang telah di berikan padanya, mana kala dirinya sedang di rundung musibah, maka perkaranya akan menjadi ringan, musibah pun terasa enteng di pikul di atas pundaknya, sehingga pada akhirnya menjadikan dirinya bersyukur kepada Allah Ta’ala dan terasa ringan beban musibah yang di alaminya. Dua puluh tujuh Ketika mengambil keputusan, timbang baik buruknya secara matang Yaitu dengan cara menggabungkan semua hasil dari sisi negatif dan postifnya, dengan menjadikan pada setiap solusi ada sisi posotifnya dan sisi negatifnya lalu di tulis di atas kertas, dengan membuat skema menjadi seratus persen antara sisi positif dan negatifnya. Kemudian setelah itu menimbang angka nominal yang di dapat dengan berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi sisi negatifnya karena terkadang dampak yang akan di dapat adalah untuk masa depannya. Sehingga kita bisa keluar dari masalah tersebut dengan solusi yang tepat dengan hasil dan dampak posotif yang sesuai. Dan gambaran untuk lebih mudahnya, di sini saya buat perumpamaan masalah yang terjadi dalam rumah tangga, ketika seorang perempuan terjadi masalah antara dirinya dengan suaminya, maka di sini bisa keluar dari masalah tersebut dengan beberapa solusi yang ada Cara pertama Memilih untuk keluar dari rumahnya menuju rumah orang tuanya. Sisi positifnya misalkan tujuh puluh sedangkan sisi negatifnya tiga puluh. Cara kedua Mengasih tahu mertuanya, misalkan atau imam masjid tentang kejadiannya melalui suaminya. Dalam solusi ini misalkan sisi positifnya lima pula, sisi negatifnya juga lima puluh. Cara ketiga Memilih untuk bersabar dan berusaha untuk mencari solusi yang lainya. Misalkan sisi positifnya delapan puluh dan sisi negatifnya dua puluh. Pada kasus seperti di atas, dengan di buat skema seperti tadi maka akan menjadi jelas, dan yang paling sedikit membawa madharat untuk melepas masalah tersebut adalah solusi yang terakhir, karena dampak negatifnya paling sedikit. Maka dengan itu dia memutuskan untuk mengambil cara tersebut. Dua puluh delapan Memasukan orang ketiga untuk di mintai pendapatnya Sebagian kejadian atau masalah terkadang di butuhkan masuknya orang ketiga yang tepat untuk bisa mengatasi masalah tersebut, seperti contoh misalnya seorang perempuan yang mempunyai suami yang tidak mau sholat di masjid bersama jama’ah, termasuk salah satu solusi yang paling sesuai pada kasus besar yang semacam ini adalah memasukan orang ketiga yang tidak lain yaitu imam masjid, untuk bisa menyelesaikan masalah suaminya yang tidak mau sholat di masjid, yaitu dengan mengundang imam masjid datang kerumahnya dan bertamu pada suaminya dengan pembicaraan ringan yang berkaitan dengan masalah sholat. Sedangkan dalam masalah yang lain, seperti dalam mendidik anak, maka bisa memasukan orang ketiga dari pihak saudara dekat maupun guru sekolahnya, demikian seterusnya. Dan perlu di ingat di sini, bahwa ketika sudah memasukan orang ketiga maka masukan dia pada pokok masalahnya, dengan membicarakan bersama mereka pada akar masalahnya saja, dengan artian jangan sampai pembicaraanya melampaui batas sehingga masuk pada perkara lain atau masuk pada permasalahan yang sudah usang, begitu seterusnya. Namun membicarakan hal-hal yang positif sehingga bisa sebagai pintu masuk yang berada ditengah-tengah solusi. Dua puluh Sembilan Berusaha mencari sebab munculnya masalah Biasanya sebuah masalah itu tidak datang begitu saja secara tiba-tiba namun pasti ada penyebab yang muncul sebelumnya sampai terjadi masalahnya. Dari sisi pendidikan misalkan, tidak mungkin seorang anak remaja baik putra maupun putri bisa tiba-tiba menyeleweng pada pergaulan yang tidak benar dalam sehari semalam, namun pasti di sertai adanya tahapan sampai pada tingkah laku yang seperti itu baik tahapannya itu panjang maupun pendek, di tambah lagi dengan adanya alat atau penyebab yang menjadikan remaja itu menjadi menyeleweng, sepert teman yang buruk misalkan, atau saluran televisi, atau bisa juga telepon atau hp, dan lain sebagainya. Oleh karena itu termasuk sarana untuk mengatasi sebuah masalah adalah mengetahui pangkal akar masalahnya, dan mengatasinya dengan cara yang sempurna bukan sedikit demi sedikit atau bertahap dengan waktu saja, terkadang mengatasinya itu bisa memanjang sesuai dengan gerak langkahnya dan sesuai dengan solusi yang di pilihnya serta membekas atau tidaknya hal tersebut, demikian juga sesuai dengan kepribadian anak yang menyeleweng tersebut, dan sebab-sebab yang lainya. Tiga puluh Menjaga lisan Sebagian masalah muncul dan yang menjadi bahan bakarnya adalah lisan, terkadang menyampaikan ucapan seseorang pada pihak lain, sedangkan perkaranya pada aslinya mudah namun hal itu menjadi penyebab munculnya sebuah masalah. Oleh karena itu gambaran tentang lidah yang harus di jauhi oleh seorang muslim ada pada beberapa perkara seperti ghibah menggunjing, mengadu domba, bohong, dusta, mengolok-olok, mencibir, menghujat, mencela dan melaknat, ini harus di tinggalkan oleh seorang muslim, lantas bagaimana kalau seandainya hal itu menjadi penyebab munculnya sebuah masalah, dan dada terasa bergemuruh mendengar ucapan yang dikatakannya? Tidak mengapa sebetulnya bagimu namun terkadang orang lain terkena penyakit seperti di atas lalu keluar begitu saja tanpa bersalah dari lidahnya, maka yang terbaik bagi dirimu jangan terpancing dan jangan di gubris, bertawakallah kepada Allah Ta’ala dan memohon supaya di selamatkan dari keburukan lidahnya dan di jauhkan dari kejelekannya. Tiga puluh Satu Mengatasi sebuah masalah bukan berarti menghukumi dan menyelesaikan seluruhnya Namun jika terjadi sebuah musibah seperti perceraian misalnya maka cukup berhenti pada solusi yang di dapat untuk mengatasi permasalahannya dan berhenti pada batasannya, jangan sampai malah menyebar kemana-mana dan merusak yang lainya, sehingga hubungan setelah perceraian menjadi rusak, apa lagi jika terjadi perceraian namun di situ melibatkan anak-anak yang di tinggalkan, maka dengan sebab hubungan yang jelek tersebut mereka jadi korbannya. kemudian juga pada akhirnya mungkin permasalahan cerainya sudah dapat teratasi, semuanya kembali seperti sedia kala, suami kembali lagi bersama istrinya, ibu kembali kerumahnya lagi dan anak-anak kembali kerumahnya. Maka cukup hanya dengan mengatasi masalahnya tanpa harus tersebar beritanya kesana-kemari. Jika ada orang tertimpa musibah tangannya patah misalkan kemudian datang ke dokter, maka dalam kasus seperti ini ada sebab yang bisa di pahami darinya, karena tanganya mau tidak mau harus diperban dan gips sampai bisa sembuh sedikit demi sedikit, kemudian diobati begitu seterusnya sampai sembuh dengan cara yang benar. Tiga puluh dua Jangan sampai masalah itu mengambil seluruh waktu hidupmu Tidak dipungkiri bahwa problem yang sedang terjadi itu sangat besar dan sulit untuk di atasi sebagaimana persangkaan orang, namun hal itu tidak bisa di benarkan seratus persen sampai menyangka sejauh itu. Jangan sampai sebuah problem mengambil seluruh waktu yang kamu miliki, jangan sampai waktu-waktu emasmu dan pikiranmu terkuras habis hanya untuk masalah yang sedang kamu hadapi, yang pada nantinya justru akan mengantarkan pada problem yang lain, dan membuat pekerjaan yang lain rusak, demikian juga menambah risau, gelisah dan gangguan psikologi. Akan tetapi jadikan masalahnya sesuai dengan ukurannya, dudukan pada posisinya yang pas, kerjakan pekerjaan yang biasa kamu kerjakan, bahkan kalau mungkin jadikan tambahan waktu untuk melepas lelah, dan menjernihkan pikiran, misalnya dengan bertemu bersama kenalan atau teman dekat sehingga pikiran bisa konsentrasi kembali dan melupakan problem yang sedang di hadapinya. Tiga puluh tiga Mengetahui kepribadian orang yang sedang mempunyai masalah bersamamu Sebagian problem biasanya di jumpai ada pihak lain dari orang kedua, ketiga dan seterusnya. Seperti dalam rumah tangga antara suami dan istri atau anak bersama keluarganya. Dan dengan mengetahui kepribadian orang lain maka menjadikan suatu hal yang sangat menentukan manakala akan mengambil sebuah keputusan yang cocok, sebagian di antara mereka ada yang mudah pembawaanya, sebagian lagi ada yang lembut dan bijaksana, yang lain lagi suka menyesali perbuatanya dan cepat kembali jika di ingatkan, ada lagi yang jika di ingatkan kepada Allah Ta’ala langsung takut, demikian seterusnya. Terkadang hal itu menjadi sebab teratasinya sebuah masalah dengan cara mengetahui kepribadian orang dengan cara yang benar. Tiga puluh empat Lingkungan yang ada di sekelilingnya Setiap problem atau masalah mempunyai lingkungan yang ia tumbuh di dalamnya, maka kita harus paham dengan adanya orang yang bisa di jadikan sebagai penengah, karena ada orang yang gampang percaya manakala ada penengah yang di percayainya. Dengan cara mengirim surat pada penengah tersebut supaya di perhatikan cara berpikirnya, sejauh mana cara pandangnya, dan apa yang harus di lakukan serta bagaimana harus berbuat? Demikian, dan sebagian orang ada yang mereka anggap sebagai tempat untuk mengadu pada setiap urusanya, untuk meminta pendapat padanya siapa yang harus di mintai pendapatnya? Kepada siapa harus mengungkapkan? Maka terkadang setelah itu keputusan di ambil lewat cara orang yang di anggap mempunyai kedudukan sebagai penengah seperti dari kerabat dekat atau teman atau kenalan atau yang lainnya. Tiga puluh lima Mengetahui secara luas keadaan orang lain Di sebagian tempat biasa seseorang berkumpul bersama saudara atau teman dekatnya, terkadang di dalam pembicaraan mereka ada masalah yang terkadang mirip sekali dengan masalah yang sedang di hadapinya, maka biarkan orang-orang yang hadir di situ berbicara dan mengemukan pendapatnya masing-masing guna memilih dan mencari solusi yang terbaik bagi masalah tersebut. Adapun dirimu lebih baik diam dan menyimak pembicaraan mereka sambil memilih jalan terbaik yang paling sesuai untuk mengatasi masalahmu. Dalam hal seperti ini maka engkau akan melihat bagaimana keadaan orang lain, dan bagaimana bahwa di antara mereka juga ada bahkan banyak yang mengalami masalah dan musibah? Bahkan barangkali masalah dan musibah yang sedang mereka hadapi lebih berat dari yang kamu alami. Dan dalam pembicaraan orang lain kita bisa menghibur hati, bahwa kiranya engkau bukan sendirian yang sedang mengalami masalah, dan ternyata tidak ada rumah melainkan di hampiri masalah baik masalahnya kecil mau pun besar, namun keadaaan orang tertutupi, dan isi dalam rumah juga tertutupi sedangkan yang mengetahui keadaan mereka semua hanya Allah Azza wa jalla. Tiga puluh enam Mendatangi konsultan yang bisa di percaya Pada zaman sekarang ini banyak sekali bermunculan kantor atau pusat-pusat konsultasi, lebih khusus lagi yang berkaitan dengan urusan rumah tangga, dan bagaimana cara menyelesaikan perselisihan dan perbedaan yang ada antara keduanya. Demikian juga ada kosultan yang menangani bagaimana cara mendidik anak. Dan yang paling bagus cara mendidik mereka dan di antara pusat pelayanan kosultasi tersebut adalah yang berada di bawah yayasan sosial, seperti proyek Syaikh Abdul Aziz untuk membantu remaja menikah. Di antaranya juga ada berdiri sendiri atau berhubungan dengan yayasan yang lain. Mungkin dengan mendatangi tempat-tempat seperti itu ada ide dan gagasan yang bagus dan berguna. Tiga puluh tujuh Meminta pendapat pada orang lain Jika seseorang terkena masalah dari permasalahan dunia, maka dirinya membutuhkan cara untuk bisa menyelesaikan dan lepas dari masalah tersebut dengan meminta bantuan orang yang mempunyai pemikiran yang bagus dan jernih, untuk membantu menyelesaikan masalahnya, tentunya setelah meminta pertolongan terlebih dahulu kepada Allah Azza wa jalla. Namun di sini muncul sebuah pertanyaan yang sangat penting dalam kasus yang semacam ini, pada siapa kita seharusnya meminta pendapat? Kepada siapa kita tuangkan segala unek-unek dan keluh kesah kita? Berkata Umar bin Khattab semoga Allah meridhoinya “Jangan membicarakan masalahmu pada orang yang tidak bisa membantumu, kenali musuhmu, hati-hati pada temanmu kecuali orang yang bisa di percaya, dan tidak ada yang bisa di percaya melainkan orang yang takut kepada Allah Azza wa jalla, jangan coba-coba berjalan bersama orang fajir karena dia akan mengajari kamu bagaimana berbuat fajir. Jangan sebarkan rahasia pribadimu dan jangan mengajak bermusyawarah pada perkaramu melainkan orang-orang yang takut kepada Allah Azza wa jalla”. Siapa yang mau memperhatikan keadaan para konsultan pada zaman ini maka dia akan terheran-heran, karena di antara mereka ada yang memang tidak berpengalaman dalam masalah ini. Ada lagi yang lain yang tidak mempunyai ilmu dan paham dengan ilmu syar’i, yang bisa menunjuki pekerjaannya, yang lain lagi ada konsultan di kalangan perempuan, yang di dapati ketika ada orang yang berkonsultasi dengannya maka dia dengan terburu-burunya memberi keputusan dengan menganjurkan supaya meninggalkan suaminya, sambil panjang lebar menjelaskan bahwa tidak ada faidahnya tinggal bersamanya lagi, kemudian sang wanita yang berkonsultasi tersebut setelah selesai berbicara dengannya, langsung menemui suaminya dan minta cerai darinya. Dia biarkan wanita malang tersebut merasakan pahitnya akibat dari anjuran sang konsultan tersebut dengan perceraian dan perpisahan bersama suaminya. Bahkan di sana ada orang yang setelah berkonsultasi pada mereka itu pulangnya membawa iri dan dengki yang membara di dalam hatinya. Adapun usalan yang pertama hendaknya berkonsultasi kepada orang-orang yang jauh hubungan darinya, sehingga bisa menjaga rahasia dan permasalahanya, jauh untuk menyebarkan luaskan. Sedangkan usulan yang lain bahwa orang yang sebaiknya di ajak untuk berkonsultasi hendaknya mereka para ulama dan orang sholeh, karena akan terjaga rahasianya dan tidak di sebarkan ke seorang pun, karena melihat begitu banyaknya orang yang datang kepada para ulama dan para syaikh, sedangkan yang lain karena mereka adalah orang-orang yang sholeh dan wara’ yang akan menunjukan kepadamu untuk menyelesaikan masalah dengan ilmu dan cahaya dengan izin Allah Ta’ala. Dan tidak mengapa kalau sekiranya kamu lebih banyak lagi berhubungan atau berkonsultasi dengan para penuntut ilmu yang mumpuni, karena melepas problem bukan seperti meminta fatwa. Karena sudah menjadi kebiasaan bahwa yang namanya sebuah problem, biasanya harus panjang lebar menjelaskan duduk permasalahanya, maka saya anjurkan supaya menghubungi para penuntut ilmu terlebih dahulu sebelum para masyayaikh besar, dikarenakan sempitnya waktu yang mereka miliki dan kesibukan yang mereka hadapi dengan urusan memberi fatwa. Bersamaan dengan itu juga dirinya harus teliti di dalam memilih pendapat secara adil yaitu dengan membandingkan pendapat yang lain secara imbang sehingga penyelesaianya bisa lebih positif hasilnya. Tiga puluh delapan Kerjakan sholat Istikharoh Setelah engkau mendengar dan mempunyai beberapa solusi yang ingin engkau pilih, yang melekat di dalam hati, maka setelah berkonsultasi pada orang yang kamu anggap mampu dan mendengar pendapat dan anjurannya untuk menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi, maka lakukanlah sholat istikharoh yang telah di ajarkan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam kepada kita sebagaimana telah shahih dalam sebuah hadits. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda “Kalau salah seorang di antara kalian hendak melakukan sesuatu hal, hendaknya ia melaksanakan sholat dua rakaat selain sholat wajib, kemudian berdoa [ اللهم إني أستخيرك بعلمك، وأستقدرك بقدرتك، وأسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر، وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب، اللهم فإن كنت تعلم هذا الأمر وتسميه باسمه، خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري فاقدره ويسره لي ثم بارك لي فيه؛ اللهم وإن كنت تعلمه شرًا لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري، فاصرفني عنه واصرفه عني، واقدر لي الخير حيث كان، ثم رضني به ولا حول ولا قوة إلا بالله ] “Ya Allah, aku memohon pilihan kepadaMu dengan ilmuMu, aku memohon kemampuan kepadaMu dengan kekuasaanMu, dan aku memohon kepadaMu keutamaanMu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sementara aku tidak mengetahui. Karena Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa perkara ini sebutkan apa yang menjadi persoalannya lebih baik dalam agamaku, hidupku dan akhir urusanku, maka takdirkanlah hal itu bagiku dan mudahkanlah aku untuk mendapatkanya, kemudian berkatilah aku dalam hal tersebut. Dan apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini tidak baik, dalam agamaku, hidupku dan akhir urusanku, maka jauhkanlah perkara tersebut dariku dan hindarkanlah diriku darinya, lalu takdirkanlah yang baik buat diriku bagaimanapun adanya, kemudian buatlah aku ridha dengannya, tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah”. HR Thabrani dari Ibnu Umar. Tiga puluh Sembilan Semuanya memerlukan waktu Waktu adalah bagian dari solusi sebuah masalah bahkan bisa jadi waktu adalah solusi yang akan mengobati masalah, yang berjalan dengan sendirinya bersama berlalunya hari demi hari, dan malam yang tiada henti, orang yang di tinggal meninggal sudah lupa akan musibahnya, perempuan yang di cerai telah menikah kembali anaknya yang kecilpun sudah mulai tumbuh besar, dan ibunya pun telah melupakan anaknya yang telah di susui. Dan Allah lah tempat meminta pertolongan. Biarkanlah hari berlalu, carilah amal sholeh yang bisa mendekatkan dirimu sedekat-dekatnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, hari akan datang silih berganti mengambil bagiannya. Dan nafas kita ini akan berhenti pada ketentuanNya, kemudian datanglah penghancur segala kenikmatan membawa hati yang berduka, dan akal yang telah lelah untuk berpikir, kemudian setelah itu tinggal pembalasan dan perhitungan di hadapan Allah Ta’ala. Innaa lillahi wa inaa ilaihi raji’un. Empat puluh Menyerahkan semua urusannya kepada Allah Ta’ala Seorang manusia seberapa pun sedih dan merananya di dunia ini, tidak ada yang lain kecuai sesuatu yang telah di takdirkan baginya oleh Allah Azza wa jalla, maka jika dia telah berusaha dengan segala kemampuannya, meminta nasehat kesana kemari pada orang yang dia percayai, sholat istikharoh juga sudah di kerjakan, namun semua perkaranya berada di tangan Allah Azza wa jalla, yang mengatur segala urusan makhlukNya sesuai dengan apa yang di kehendakiNya. Oleh karena itu selalu berbaik sangkalah pada hukum dan ketentuan Allah Azza wa jalla, terlebih jika dirimu telah berusaha sekuat tenaga. Memujilah kepada Allah Ta’ala yang telah memberi takdir pada setiap perkara, dan wajib bagimu merasa bahagia dan senang karena dirimu bisa kembali untuk berpegang pada tiang yang kokoh dan pada Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Lihatlah keadaan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ketika dirinya merasa sedih sekali tatkala di tolak oleh kaumnya setelah usaha dan kemampuan yang beliau korbankan untuk mendakwahi mereka, maka Allah Azza wa jalla berfirman kepada beliau, dengan firmanNya سورة فاطر 8 فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚقال الله تعالى “Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan yang kamu rasakan terhadap mereka”. QS Faathir 8. Penutup Saudaraku, jika rasa sakit dan kesedihan menerpa dirimu di sebabkan sebuah musibah, dan segala usaha telah engkau tempuh, namun kegelapan menutup jalannmu, sadarilah bahwa itu termasuk kejadian dunia yang telah di takdirkan. Oleh karena itu dirimu harus tunduk dan merasa ridho dengan apa yang telah di tentukan dan di takdirkan oleh Allah Azza wa jalla, , karena ridho dengan qadha dan takdir Allah Azza wa jalla itulah kedudukan yang utama. Allah Ta’ala berfirman سورة التوبة 51 قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوۡلَىٰنَاۚ قال الله تعالى “Katakanlah “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami”. QS at-Taubah 51. Kemudian tingkatan yang kedua adalah sabar dengan musibah yang menimpa, dan tingkatan sabar ini bagi orang yang tidak mampu untuk ridho dengan qadha Allah Ta’ala, karena rasa ridha adalah sesuatu yang di anjurkan sedang sabar adalah suatu kewajiban bagi seorang mukmin kokoh. Ketahuilah bahwasanya ketika dirimu ditimpa suatu musibah yang tidak engkau senangi, maka pahamilah bahwa yang telah mentakdirkan adanya musibah adalah Allah Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, Dzat yang berbuat sesuai dengan yang di kehendaki dan menghukumi apa yang di inginkan. Begitu juga bahwasanya Allah Ta’ala telah memberi rahmatNya yang bermacam-macam kepada hambaNya tanpa pamrih, kemudian setelah itu Allah Ta’ala memberi rahmat dan taufikNya kepada hambaNya untuk bisa bersyukur, merahmatinya dan memberinya ujian, kemudian setelah itu memberi rahmat dan taufikNya untuk bisa bersabar, maka keridhoan kepada Allah Ta’ala di dahulukan atas segala yang telah kita rencanakan, karena manusia merencanakan tetapi Allahlah yang menentukan, Allah Ta’ala juga menyayangi dengan menjadikan adanya musibah tersebut sebagai penghapus dosa dan kesalahannya serta menambah kebaikan dan mengangkat derajatnya. SEMOGA BERMANFAAT SEBAB DAN HIKMAH MUSIBAHOleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-AtsariFaktor utama penyebab musibah yang menimpa manusia adalah dosa dan kemaksiatan mereka. Ini merupakan perkara yang pasti dalam syari’at yang suci ini. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allâh Azza wa Jalla مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَApa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allâh, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri. [an-Nisâ`/479].Imam Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Sebagai hukuman bagimu wahai anak Adam, disebabkan karena dosamu”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir].Hal ini juga ditegaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam ayat yang lainوَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu. [asy-Syûra/4230].Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat ini, beliau mengatakan, “Musibah-musibah apa saja yang menimpa kamu wahai Adam, itu hanyalah karena keburukan-keburukan yang telah kamu lakukan. Dan Allâh memaafkan sebagian besar’, dari kesalahan-kesalahan, sehingga Dia tidak membalas kesalahan-kesalahan kamu, bahkan Dia memaafkannya”.Di tempat lain Allâh Azza wa Jalla berfirman ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. [ar-Rûm/3041]Saat menjelaskan ayat, yang artinya,“disebabkan karena perbuatan tangan manusia”, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa kekurangan pada tanaman dan buah-buahan disebabkan oleh kemaksiatan-kemaksiatan. Abul-Aliyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa bermaksiat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, maka ia telah berbuat kerusakan di muka bumi. Karena kemakmuran bumi dan langit adalah dengan ketaatan”. [Tafsir Ibnu Katsir, surat ar-Rûm/30 ayat 41].Allâh Azza wa Jalla juga berfirmanوَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَJikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [al-A’râf/796].Dalam ayat ini Allâh memberitakan bahwa penyebab siksa itu adalah perbuatan manusia yang mendustakan MUSIBAH Allâh Azza wa Jalla adalah al-Hakîm, Maha Bijaksana. Segala perbuatan-Nya pasti mengandung hikmah, baik kita ketahui secara jelas maupun samar-samar. Seperti halnya dalam masalah musibah pada manusia, Allâh Azza wa Jalla memberitakan di antara himah-hikmah perbuatan-Nya itu. Inilah di antaranya Pertama Sebagai siksa terhadap sebagian manusia dan keutamaan bagi sebagian yang عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍDari Aisyah Radhiyallahu anhuma, istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam tentang wabah tha’un suatu jenis penyakit menular yang mematikan. Beliau memberitahukan kepadaku, bahwa itu merupakan siksaan yang Allâh kirimkan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan Allâh menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak ada seorangpun yang tertimpa penyakit tha’un, lalu ia tinggal di kotanya dengan sabar, mengharapkan pahala Allâh serta ia mengetahui bahwa ia tidak tertimpa sesuatu kecuali apa yang telah Allâh tulis takdirkan baginya, kecuali orang itu akan mendapatkan semisal pahala syahid”. [HR al-Bukhâri, no. 3474].Kedua Sebagai balasan kesalahan kemaksiatan manusia. Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaاَلْمَصَائِبُ وَالْأَمْرَاضُ وَالْأَحْزَانُ فِي الدُّنْيَا جَزَاءٌMusibah-musibah, penyakit-penyakit, kesusahan-kesusahan di dunia merupakan balasan.[1]Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda لاَ يُصِيْبُ رَجُلاً خَدْشُ عُوْدٍ وَلاَ عَثْرَةُ قَدَمٍ وَلاَ اِخْتِلاَجُ عِرْقٍ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو اللهُ أَكْثَرُTidaklah sepotong kayu melukai seseorang, tergelincirnya telapak kaki, dan terkilirnya urat, kecuali dengan sebab dosa. Dan apa yang Allâh maafkan lebih banyak.[2]Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam juga memperingatkan para sahabatnya dari beberapa kemaksiatan yang menyebabkan bencana. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaيَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْHai orang-orang Muhajirin, lima perkara jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allâh agar kamu tidak mendapatinya Tidaklah perbuatan keji seperti bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit thâ’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezhaliman pemerintah. Tidaklah mereka menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allâh dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka orang-orang kafir menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka. Dan selama pemimpin-pemimpin negara, masyarakat tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allâh turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.[3]Ketiga Sebagai penebus أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُDari Abu Sa’id al-Khudri dan dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa sesuatu seperti kelelahan, penyakit yang tetap, kekhawatiran terhadap sesuatu yang kemungkinan akan menyakitinya, kesedihan, gangguan, dan duka-cita karena suatu kejadian, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allâh akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu”. [HR al-Bukhâri, no. 5642; Muslim, no. 2572].Keempat Agar manusia kembali menuju kebenaran, beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .Allâh Azza wa Jalla berfirmanظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴿٤١﴾قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Katakanlah, “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allâh”. [ar-Rûm/3041-42].FAIDAH KEYAKINAN INI Setelah mengetahui bahwa seluruh musibah yang menimpa manusia, penyebabnya adalah perbuatan manusia itu sendiri, maka keyakinan ini akan membuahkan hal-hal yang baik. Yaitu ketika seseorang atau masyarakat tertimpa musibah, maka mereka akan mawas diri dan mengoreksi kesalahan-kesalahannya, lalu kembali kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Penguasa mereka. Dengan demikian, keadaan mereka menjadi lebih baik daripada sebelum datangnya musibah. Bukan menyalahkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang telah menimpakan adzab kepada contoh, kekalahan kaum Muslimin dalam peperangan Uhud pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam . Penyebabnya adalah kemaksiatan sebagian sahabat terhadap perintah Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam . Setelah itu para shahabat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kejadian tersebut. Lalu mereka berhati-hati, jangan sampai kejadian serupa juga kekalahan kaum Muslimin pada awal peperangan Hunain, adalah karena ujub kebanggaan sebagian umat Islam karena jumlah yang banyak. Namun ternyata jumlah yang banyak semata, tidaklah membawa kemenangan, sampai Allâh memberikan pertolongan-Nya kepada mereka. Al-hamdulillâhi Rabbil-Alamîn.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] HR Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Dishahîhkan oleh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ush-Shaghîr, no. 6717 [2] HR Ibnu Jarir. Lihat Shahîh al-Jâmi’ush-Shaghîr, no. 5624, 5639, 5694, 7608, 7609 [3] HR Ibnu Mâjah, no. 4019; al-Bazzar; al-Baihaqi; dari Ibnu Umar. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahîhah, no. 106; Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb, no. 764, Penerbit Maktabah al-Ma’arif

apa yang kamu lakukan jika tetanggamu mengalami musibah